Dari Garda Pemuda hingga Keluar Partai, Ainur Tiktoker Bongkar Gonjang-Ganjing NasDem Sumenep
NEWS SUMENEP, DIMADURA – Mantan Bendahara DPD NasDem Sumenep, Ainurrahman, yang kini dikenal publik sebagai Ainur Tiktoker, membongkar dinamika internal partai yang ia sebut penuh gonjang-ganjing, sejak ia bergabung sebagai kader Garda Pemuda hingga akhirnya memilih keluar dari partai.
Komentar Ainur ini mencuat usai penetapan Akis Jazuli sebagai Ketua DPD NasDem Sumenep yang diduga menjadi salah satu faktor pemicu pergeseran kepengurusan hingga ke tingkat DPC.
Ia menilai pergantian ini bukan hal baru, melainkan bagian dari siklus berulang yang kerap dipicu masalah internal.
“Siapapun yang menjadi ketua NasDem Sumenep, menurut saya tidak akan jauh berbeda dari sebelumnya. Masalah kecil seringkali menjadi pemicu pergantian pimpinan,” ungkapnya kepada media ini, Senin (9/6).
“Untuk itu, saya sarankan DPP dan DPD Jatim tidak mudah terpengaruh oleh aduan dari daerah. Penunjukan ketua dari pusat untuk Sumenep bisa menjadi solusi,” imbuh dia.
Ketika ditanya alasan kenapa dirinya memilih keluar dari partai, Ainur yang dikenal aktif membagikan konten ringkas di TikTok, memilih respons santai.
Dengan gaya khas Maduranya, ia melontarkan sindiran tajam yang diselimuti senyum, seolah sedang memperlihatkan ketegarannya menghadapi dinamika internal partai yang tak sedikit drama.
“Padâ bhâih.. èghântè è tengnga jhâlân (Sama saja, diganti di tengah jalan). Karena aduan-aduan, mungkin Akis salah satu pengadunya dulu,” katanya, sambil menyelipkan emoji senyum.
Ainur kemudian menelusuri rekam jejaknya di partai. Saat kepemimpinan pertama dipegang oleh Kiai Sufyan (asal Desa Aèng Panas), ia menjabat sebagai Ketua Garda Pemuda NasDem Sumenep.
Setelah itu, jabatan Ketua menurutnya berganti ke Aziz Salim Syabibi, Sekretaris K. Tirmidzi (Gapura), dan Bendahara dipegang oleh dirinya sendiri.
Namun lagi-lagi terjadi konflik internal, hingga Tirmidzi naik menjadi Ketua. Di fase itulah Ainur memutuskan hengkang. “Soal tahun berapa saja itu, kaloppaè lah (lupa saya dah),” ungkapnya.
Ia mengingat, saat itu NasDem ikut mengusung pasangan Busyro-Fauzi di Pilkada 2015–2020.
Meskipun telah lama keluar dari partai, Ainur tetap menyimpan harapan. Ia ingin NasDem tumbuh besar di Sumenep, asalkan mampu keluar dari pola struktural yang dikungkung oleh aduan personal ke pusat.
Sebelum mengakhiri keterangan, ia menegaskan harapan dan sekaligus peringatan untuk para politikus di organisasi besutan Surya Paloh itu. “Jangan sampai NasDem terkikis oleh budaya aduan eksternal,” pesan Ainur singkat.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow



