dimadura
Beranda Tomang Sumenep Minim Anggaran, Koleksi Buku Digital Perpusda Sumenep Belum Bertambah

Minim Anggaran, Koleksi Buku Digital Perpusda Sumenep Belum Bertambah

Tampak beberapa anak sedang mengunjungi Ruang Koleksi Buku di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep. (Foto.Ari/Doc. Dimadura).

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS DIMADURA, SUMENEP–Hingga saat ini, koleksi buku digital di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep, Madura Jawa Timur, belum mengalami penambahan.

‎Hal itu disebabkan keterbatasan anggaran dan pertimbangan efisiensi, mengingat koleksi digital yang dimiliki oleh Perpustakaan Daerah Jawa Timur (Perpusda Jatim) dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) telah sangat lengkap dan mudah diakses masyarakat.

‎Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sumenep, Rudi Yuyianto, menjelaskan bahwa pihaknya lebih memilih untuk mengoptimalkan pemanfaatan koleksi digital yang sudah tersedia di tingkat provinsi dan nasional.

‎”Sejauh ini belum ada penambahan koleksi digital karena anggarannya terbatas. Lagipula, koleksi di Perpusnas dan Perpusda Jatim sudah sangat lengkap dan bisa diakses siapa saja. Jadi kami berharap ke depannya bisa mengarah pada integrasi, menjadi semacam ‘one library’,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Selasa, (27/05/25).

‎Lebih lanjut, Rudi mengungkapkan bahwa upaya yang saat ini menjadi prioritas adalah penguatan koleksi buku teks di Perpustakaan Sumenep, mengingat masih terbatasnya ketersediaan buku fisik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

‎“Fokus kami saat ini lebih ke pengadaan buku teks karena memang koleksi di Sumenep masih minim,” tambahnya.

‎Sementara itu, kerja sama dengan Perpustakaan Nasional melalui program titik baca disebut Rudi memang sudah direncanakan, namun belum terealisasi hingga saat ini.

‎Lebih ia juga menjelaskan, untuk mendorong peningkatan minat baca masyarakat, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sumenep juga melakukan berbagai inisiatif.

‎Mulai dari program penghargaan bagi pengunjung yang memiliki durasi membaca terlama, layanan perpustakaan keliling, hingga menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan pemerintah desa atau lembaga pendidikan untuk penyediaan dan peminjaman buku selama jangka waktu tertentu, biasanya tiga bulan.

‎”Semua langkah ini kami lakukan agar masyarakat lebih dekat dengan buku dan menjadikan membaca sebagai budaya,” tutup Rudi.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan