Pangkèng, Paramasastra--Berdasarkan susunan kata-katanya, bentuk okara Bahasa Madura terbagi menjadi 4 macam kategori. 4 macam kategori okara bahasa Madura tersebut antara lain, 1) okara nonggal, 2) okara rangke', 3) okara rengkes, dan 4) okara budhu'. Berikut ini penjelasan sederhana sekaligus contoh masing-masing okara bahasa Madura berdasarkan susunannya.

1. Okara Nonggal (Kalimat Tunggal)

[caption id="attachment_2441" align="aligncenter" width="300"]Macam-macam Okara Nongghâl dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura) Macam-macam Okara Nongghâl dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura)[/caption] Mengutip penjelasan dalam buku 'Panduman Basa Madura' karya Prof Dr Abd Sukur Notoasmoro (hlm. 182-189), jenis okara nonggal sendiri terbagi menjadi 4 kategori. 4 kategori okara nonggal (nongghâl) antara lain, 1) okara majja (kalimat sederhana), 2) okara genna' (kalimat luas), 3) okara samporna, dan 4) okara ta' samporna. Sebagai pengantar, di bawah ini adalah beberapa contoh okara nonggal yang mewakili contoh-contoh lain pada penjelasan bagian-bagian dalam okara nonggal. Suliman penter (okara majja) Salimin sake' gigi (okara samporna) Salam sake' (okara ta' samporna) Karto ngamba' tamoy neng e amper (okara genna') Lebih jelas, mari kita perdalam dengan penjabaran beserta contoh masing-masing bagian dari okara nonggal.

Okara majja (kalimat sederhana)

Disebut okara majja (okara majjhâ) karena susunan okara ini terbilang singkat dan sederhana tetapi sudah dapat dikatakan sebagai okara atau kalimat. Sebagaimana definisi okara dalam bahasa Arab menurut pengarang Gramatika Alfiyah, Ibnu Malik, bahwa sejatinya susunan kata sudah bisa dikatakan kalam (okara) apabila maksud susunan kata tersebut dapat dimengerti (mufiedun). Tak perlu bertele-tele, walaupun hanya terdiri dari 1 atau 2 kata tetapi maksud kalimat tersebut dapat dimengerti, maka cukuplah ia dapat disebut: OKARA. Contoh:
Sengko' loppa
Ale' lemmes
Ba'na leburan
Samo lan-jalanan

Okara Samporna (kalimat sempurna)

Pada intinya, sebuah okara dikatakan sampurna jika okara tersebut sudah memenuhi unsur sebuah kalimat, yakni subjek (jhejjher), predikat (carèta), objek (lèsan), dan lebih-lebih ada keterangan waktu atau tempat. Pada intinya, seumpama kita tarik ibarat ke ilmu gramatika bahasa Arab, okara samporna bisa saja terdiri dari susunan ismiyah (kata benda), bisa pula terdiri dari susunan fi'liyah. Lengkap 2 atau 3 unsur saja, sebuah okara sudah masuk pada kategori okara samporna, sebagaimana contoh pada okara majjhâ di atas. Jadi, okara majjhâ pun sebenarnya juga masuk pada kategori okara samporna, yakni apabila okara tersebut diucapkan tidak menimbulkan pertanyaan. Lebih gamblang, berikut ini contoh okara samporna.
Ke Samot ampon seda
Ale' melle jang-lajangan
Tor-motoranna ale' rosak
Ba Khatib entar nenggu bines
Gella' Emmak entar ka bengkona ba'na

Ki Samot sudah meninggal Adek beli layangan Mobil-mobilan adek rusak Mbah Khatib pergi melihat bibit padi Tadi Kakak pergi ke rumahmu

Okara Ta' Samporna (kalimat tidak sempurna)

Beda dengan okara samporna, okara ta' samporna adalah kalimat yang jika diucapkan masih menimbulkan pertanyaan. Contoh: Lagguna polè (besok lusa), mare ngakan (sudah makan), celo' parana (kecut sekali), tang emma' sake' (ibu saya sakit), dan lain sebagainya. Nah, ketika diucapkan kepada seseorang, maka jelas dalam benak orang tersebut akan timbul pertanyaan: Sake' apa? (sakit apa?). Ya, namun demikian, yang dimaksud tidak menimbulkan pertanyaan tidak berarti pertanyaan tersebut menuntut jawaban lengkap dan panjang di luar inti dari okara tersebut. Misal pada contoh "ibu saya sakit kanker", lalu Anda bertanya: Kanker apa? Mulai kapan sakit? Sudahkah dibawa ke rumah sakit? Rumah sakit apa? dan lain seterusnya.

Okara genna' (kalimat luas)

Okara genna' dalam bahasa Indonesia berarti kalimat lengkap atau luas; memuat seluruh unsur okara seperti subjek, predikat, objek, keterangan waktu atau tempat dan seterusnya. Berikut ini contohnya.
  • Bu' Sadima entar ngoro' Munir e bengko jalau'
  • Rama jang lagguwan ban ale' mandhi ka Songay Bato
  • Ba'ari Murkiden entar alako mateppa' kandhangnga Marsuki polana la abit rosak edina bariya
  • Bu Sadima pergi memijat Munir di rumah selatan
  • Pagi-pagi sekali Rama dan Adik pergi mandi ke Sungai Batu
  • Kemarin Murkiden pergi bekerja membetulkan kandang Marsuki karena sudah lama rusak ditinggal begitu saja

2. Okara rengkes (kalimat singkat)

[caption id="attachment_2443" align="aligncenter" width="300"]Macam-macam Okara Rèngkes dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura) Macam-macam Okara Rèngkes dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura)[/caption] Okara rèngkes (singkat) sebenarnya tidak jauh beda dengan okara majjhâ (sederhana). Hanya saja, okara rèngkes masih mengandung penjabaran lebih mendalam. Ada beberapa macam okara bagian dari okara rèngkes. Antara lain, okara pangako, okara palabân, okara sèpat, okara panyambhât, dan okara pangghâbâyân.

Okara pangako

Adalah okara yang jhejjher atau subjeknya menjadi keterangan atas predikatnya atau, subjeknya mengakui adanya predikat setelahnya. Seperti: Rama ella baras, Su'din entar ajalanan, dlsb. Bisa juga okara tersebut terdiri dari susunan kata benda seperti: sengko' ana'na Samot, reya motorra ale', dan lain sebagainya.

Okara palaban

Okara palabân adalah okara yang--dimana subjeknya memungkiri adanya predikat setelahnya. Dengan kata lain, kalimat tersebut mengindikasikan maksud penolakan atas lawan bicaranya. Sengko' ta' ajalanan Enja' ba'na ta' juba' Bibbi' laju ta' enga' sakale

Okara sepat

Adalah okara yang memuat oca' sèpat (kata sifat) atau, susunan kalimat tersebut terdiri dari subjek dan kata sifat yang menerangkannya. Dengan kata lain, careta (perdikat) dalam okara tersebut terdiri dari kata sifat. Contohnya seperti: Ba'na oreng penter (kamu orang pandai), Reno bagus tengkana (tingkahlaku Reno bagus), Peberka'na Roni ce' santa'na (Lari Roni cepat sekali), dlsb.

Okara panyambat

Jika predikat (carèta) dari sebuah okara terdiri dari kata benda atau kata ganti, maka okara tersebut tergolong kategori okara panyambhât. Contoh: Na'-kana' areya oreng mor dhaja (anak ini orang timur daya), Ba'na katowana sengko' (kamu ketuaku), bulpen rowa andhi'na Sikèn (pulpen itu milik Siken), dlsb.

Okara panggabayan

Adalah okara bahasa Madura yang predikatnya terdiri dari kata kerja (oca' ghâbây atau oca' lako). Dalam bahasa Arab kita mengenalnya sebagai susunan fi'liyah. Seperti, Suno entar le-melle (Suno pergi membeli sesuatu), Sengko' la mare mandhi (Saya sudah mandi), dlsb.

3. Okara Rangke'

[caption id="attachment_2442" align="aligncenter" width="300"]Macam-macam Okara Rangkè' dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura) Macam-macam Okara Rangkè' dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura)[/caption] Okara rangke' ada dua jenis, yakni okara rèmpèt (kalimat majemuk setara) dan okara ḍhângkè' (kalimat majemuk bertingkat). Pengertian okara rangkè' adalah kalimat yang terdiri dari gabungan beberapa okara nongghâl. Jadi, dalam satu okara rangkè' bisa terdiri dari dua atau lebih subjek dan predikat. Bisa juga terdiri dari okara majjhâ dan okara majjhâ, bisa dari okara samporna dan okara panggabayan, okara sepat dengan okara pangako, dan sebagainya.

Okara Rempet

Dalam bahasa Indonesia, okara rèmpèt disebut kalimat majemuk. Artinya, kalimat tersebut merupakan gabungan dua okara yang mirip dari segi fungsi kata-kata yang menyusunnya. Okara rempet sendiri terbagi menjadi 2 bagian, yakni rèmpèt atong (kalimat majemuk setara) dan rèmpèt salèsèr (tidak setara). Contoh okara rèmpèt atong seperti:
  • Mejana bagus, korsena gi' anyar
  • Kaka'na badha e amper, ale'na badha e taneyan
  • Lutfi entar ka lon-alon, Ridwan entar ka pasar
Contoh okara rèmpèt salèsèr seperti:
  • Bengkona ce' bagussa, tape gentengnga bucor e man-dhimman
  • Ale'na bajeng parana, keng aba'na dibi ce' malessa
  • Rama la mangkat ka masegit, mangkana ojan gi' derres

Okara Dhangke'

Sementara okara ḍhângke' dalam bahasa Indonesia adalah yang kita kenal dengan sebutan alimat majemuk bertingkat. Satu kalimat menjadi induk kalimat (okara korbi) dan satu lainnya merupakan anak kalimat (okara budhu'). Okara budhu' atau anak kalimat adalah kalimat yang menerangkan induk kalimat (okara korbi). Sementara induk kalimat adalah okara utama dalam sebuah paragraf yang menjadi keyword sekaligus pengantar tersusunnya paragraf tersebut.
  1. Are Satto sengko' ta' asakola (okara korbi)
  2. Are Satto sengko' entar lan-jalanan (okara budhu')
Jika 2 okara samporna tersebut digabungkan menjadi 1 kalimat, maka skan menjadi: Are Satto bakto sengko' ta' asakola, sengko' entar lan-jalanan.

4. Okara Budhu'

[caption id="attachment_2444" align="aligncenter" width="300"]Macam-macam Okara Buḍu' dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura) Macam-macam Okara Buḍu' dalam Bahasa Madura (Arsip @dimadura)[/caption] Sebenarnya okara budhu' ini merupakan bagian dari sub bahasan okara ḍhângke'. Akan tetapi, di sini redaksi sajikan terpisah untuk lebih mempertegas adanya macam-macam okara dalam bahasa Madura. Sebagaimana menurut Abd Sukur Notoasmoro dan penjelasan dari M. Wirjoasmoro, hlm. 22/23, berikut macam-macam okara budhu' dan contohnya.

Budhu' jejjer

Okara ḍhângkè' buḍu' jhejjher adalah gabungan dua kalimat yang salah satu atau dua-duanya kalimat tersebut mengandung subjek (jhejjher). Jika induk kalimatnya (okara korbina) tidak mengandung subjek, maka anak kalimatnya secara otomatis menjadi subjek.
  1. Maleng se etemmo rowa eyokom
  2. Sapa'a bai se ngala' andhi'na oreng eyokom
Kalau dua okara di atas digabungkan menjadi: Sapa'a bai maleng se ngala' andhi'na oreng pas etemmo bakal eyokom.

Budhu' careta

Sebuah kalimat bahasa Madura dikatakan okara ḍhângke' budu' carèta apabila salah satu dari 2 kalimat yang disatukan memuat kata kerja, baik di kalimat pertama maupun pada kalimat yang kedua. Contoh:
  • Sengko' entara ka gabay mon ba'na entar keya
  • Ale' melle rajak neng e Pasar Gandhing, sabatara sengko' entar amaen ka bengkona kanca
  • Ba'na olle melle sapedha motor, poko' asakola onggu ban bajeng ajar

Budhu' lesan

Okara ḍhângkè' buḍu' lèsan biasanya mendapat imbuhan kata konjungsi (penghubung) ja' atau mon, yang terletak di antara 2 kalimat, tepatnya setelah tanda koma. Contoh:
  • Ebuna abala, ja' salerana ampon sae
  • Pandhi rowa la nangale'e, ja' gerbusanna rosak
  • Balai sengko' mon pangajiyanna la emolae

Budhu' bakto

Okara ḍhângke' buḍu' bâkto biasanya dihubungkan dengan kata konjungsi antos, sabellunna, mangken dhimen, bareng, atau pongpong. Contoh:
  • Antos gallu sakejja' aggi', sengko' gi' mandhiya
  • Sabellunna Suryo dhateng, ba'na ja' ajalanan
  • Mangken dhimen j'a ru-kaburu, kaula gi' neddha'a
  • Ma' bisa onggu ba'na se labu, bareng ba'na la ekoca' papa nompa' sapedha
  • Pongpong gi' laggu, mara ja' duliya mangkat
[caption id="attachment_2445" align="aligncenter" width="300"]4 Macam Bentuk Okara Bahasa Madura Lengkap 4 Macam Bentuk Okara Bahasa Madura Lengkap Berdssarkan Susunan Kata-kata yang Membangunnya (Arsip @dimadura)[/caption]

Bhudu' pangambri

Kata penghubung okara ḍhângke' buḍu' pangambri antara lain: sopaja, ma', nyoppre, ngambri. Contoh:
  • Pamanna se sake' giba ka dukter ngambri duli eyobadi ban lekkas baras
  • Eppa'na kerem lu e saba ma' olle bu-ambu se alandhu'
  • Ale'na soro pabajeng ajar, nyoppre pagi' ta' kasta e budhi are
  • Komporra berse'e sabban are, sopaja rebbangnga bagus

Budhu' sabab

Okara ḍhângkè' buḍu' sabâb dalam gramatika bahasa Indonesia kita kenal dengan kalimat sebab-akibat (causal). Okara jenis ini biasa digunakan dalam contoh-contoh kalimat filosofis yang menggambarkan tentang hukum kausalitas. Adapun kata penghubung yang biasa digunakan antara lain: sabab, amarga, polana, karana, dan yang semacamnya. Contoh:
  • Kompolanna para' mateya, amarga anggotana bannya ambu.
  • Se nenggu bajang ta' egarassa ngantok, sabab caretana ce' leburra
  • Sengko' ban ba'na reya kodu bajeng ajar nyoppre daddi oreng ontong

Budhu' parjanjiyan

Kata konjungsi untuk okara ḍhângke' buḍu' parjhânjhiyân antara lain: kalamon, saopama, ja' sakenga. Contoh:
  • Mon Taha olle jaran, engko' noro'a
  • Senga' lagguna paenga' se mangkada ya, sengko' tako' loppa
  • Saopama ta' nemmo alangan, insya Allah tolos sengko' se entara ka Jakarta
  • Ja' sakenga ba'na toro' oca' ka dhabuna emma', se terrang ba'na salamet

Budhu' kadaddiyan

Sementara kata penghubung untuk okara ḍhângke' buḍu' kadhâddhiyân antara lain: kongse, sampe', dala, taker, la-gala.
  • Korsena eret-teret bi' ana'na, kongse rosak
  • Se nae' ce' leppe'na, taker napa' ka col-oncolla
  • Panabangnga ce' ngonyengnga, la-gala se etabang atabi' se berka'a pole

Budhu' sepat

Okara budhu' sèpat adalah gabungan 2 okara dimana salah satunya mengandung kata sifat. Contoh:
  • Robana raddin onggu, mangkana bannya' oreng terro
  • Buden ngoca' dujan mon ka rojagga ba'na, iya ja' nyaman onggu rassana, ta' ceya ban ta' accen, seddha' seddheng

Budhu' babandhingan

Ebandhing ba'na, oreng rowa gi' kala junel mon pera' parkara nope soleng Sengko' gi' kala jau etembang kalongedanna ba'na dhalem parkara agama Demikian penjelasan tentang 4 macam okara bahasa Madura berdasarkan bentuk atau susunannya. Sejatinya, semua okara antara macam yang satu dengan yang lainnya sama saja dan saling berkaitan. Pengelompokan ini hanya sebagai pembelajaran tentang jenis-jenis okara dalam bahasa Madura berdasarkan wujud kata-kata yang menyusunnya. Semoga bermanfaat dan mator sakalangkong!