Bagian 1: Sebuah Telepon yang Mengubah Jalan Hidup

Ada sebuah kalimat dalam Al-Qur'an yang sejak lama saya yakini, tetapi baru benar-benar saya rasakan maknanya pada musim haji tahun 1447 Hijriah.

"Min haitsu la yahtasib." Dari arah yang tidak pernah disangka-sangka.

Kalimat itu bukan sekadar rangkaian ayat yang sering didengar dalam ceramah. Kalimat itu benar-benar menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Saya adalah M. Hariri. Sehari-hari, saya bekerja sebagai Jurnalis TV9 Nusantara yang bertugas di Kabupaten Sumenep, sebuah kabupaten di ujung timur Pulau Madura, Jawa Timur.

Rutinitas saya sederhana. Hampir setiap hari mengejar narasumber, meliput berbagai peristiwa, menulis berita, mengirim video, lalu kembali bersiap untuk liputan berikutnya.

Sebagai wartawan daerah, saya terbiasa bekerja jauh dari sorotan. Liputan tentang pemerintahan, pendidikan, sosial, budaya, hingga berbagai persoalan masyarakat menjadi makanan sehari-hari. Saya menikmati pekerjaan itu.

Tidak pernah terlintas dalam pikiran bahwa suatu hari saya akan berada ribuan kilometer dari kampung halaman, mengenakan identitas Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Kalau ditanya apakah pernah bercita-cita menjadi petugas haji, jawabannya sederhana: tidak! Bahkan bermimpi pun tidak.

Semua bermula pada hari Rabu, 10 Desember 2025. Saat itu saya sedang duduk di Sekretariat Komunitas Jurnalis Sumenep (KJS) bersama Bendahara saya Fathol Alif. Telepon dari kantor Tv9 berbunyi.