Sajak MH Efendi
Foto: Dokumentasi dimadura.id
Aku adalah debu yang berjalan di atas waktu, menyebut namaku sendiri dengan suara yang kadang tak kukenal. Di cermin pagi, wajahku tampak utuh, tapi di dada, ada retak-retak halus yang tak pernah sempat kuceritakan pada siapa pun. Hidup ini tidak pernah benar-benar memelukku, ia hanya menggandeng tanganku sebentar, lalu melepaskannya di tikungan sunyi tanpa aba-aba. Aku belajar tersenyum seperti langit belajar menyembunyikan badai. Orang-orang melihat terang di wajahku, tapi tak ada yang tahu betapa gelapnya malam yang kusimpan di balik mata. Aku pernah menjadi anak kecil yang percaya semua pintu akan terbuka asal diketuk dengan doa. Namun kini aku tahu, tak semua pintu diciptakan untukku, dan tak semua doa mendapat alamat yang jelas. Kadang aku bertanya pada kehidupan: mengapa langkahku selalu terdengar lebih berat dibanding yang lain? Mengapa bahuku terasa penuh meski tanganku kosong? Kehidupan tak menjawab. Ia hanya menaruh luka di pangkuanku dan berkata pelan, “Rawatlah ini, agar kau tahu rasanya menjadi manusia.†Aku mencintai hidup, meski ia sering tak mencintaiku dengan cara yang sama. Aku tetap menyalakan harapan meski angin berkali-kali memadamkannya. Sebab di balik semua kehilangan, aku menemukan diriku yang tak runtuh saat dihantam sepi, yang tak pergi saat dikhianati sunyi. Dan jika suatu hari aku benar-benar lelah, biarlah tangisku jatuh tanpa suara, seperti hujan yang tak meminta disaksikan. Biarlah dunia tak tahu betapa kerasnya aku berjuang hanya untuk tetap berdiri. Aku adalah aku! Seorang yang tak sempurna, yang berjalan tertatih di antara takdir dan mimpi, yang belajar setiap hari bahwa hidup bukan tentang menang, melainkan tentang bertahan tanpa kehilangan hati. Dan bila kelak namaku hilang dari ingatan manusia, semoga jejak air mataku masih tinggal di tanah, menjadi saksi bahwa aku pernah sungguh-sungguh mencintai kehidupan, meski ia sering membuatku patah.
Sumenep, 2 Maret 2026