SASTRA, DIMADURA – Siapa sangka, di balik kesederhanaan kue Lebaran, tersimpan pelajaran hidup yang begitu dalam? Kue-kue yang kita lihat di meja tamu itu adalah pelengkap harmoni di hari raya, sekaligus merupakan metafora yang menggambarkan berbagai aspek kehidupan—dari ilusi kebahagiaan, ketimpangan sosial, kepalsuan, kejujuran, hingga ketahanan dalam menghadapi tekanan.

Lima puisi pendek karya Soemarda Paranggana berikut coba menghadirkan makna yang tersembunyi dalam tiap gigitan kue yang biasa kita santap saat momen lebaran.

Dari nastar hingga kue semprit, masing-masing menawarkan refleksi atas nasib, hierarki sosial, kepalsuan, kejujuran, dan ketahanan.

1. Nastar dan Takdir

Nastar di meja, nasib di tangan, manis di luar, getir di dalam. Kau gigit ia, ia menggigit balik, seperti janji yang tak sempat pulang.

2. Kastengel Kapitalis

Keju di atas, tepung di bawah, kastengel tahu: hierarki itu nyata. Makin mahal, makin berkelas, tapi di perut, semua jadi sama.

3. Putri Salju dan Revolusi

Dingin, manis, berpura-pura, putri salju menunggu pecahnya fajar. Berserak di toples kaca, menanti tangan proletar.

4. Lidah Kucing yang Malu