GHÂGHURIDHÂN, DIMADURA – Puisi “Dongeng Malam Hari” karya Eyon Erorina adalah ungkapan puitis yang menggambarkan pertemuan antara kesunyian malam dan perasaan terdalam manusia. Melalui bahasa metaforis dan imaji yang kuat, ia menghadirkan malam sebagai ruang kontemplasi penuh rindu, kenangan, dan cinta. Malam digambarkan hidup menatap, berbicara lewat abjad dan mantra, seolah menjadi saksi bisu dari perasaan yang tak tersampaikan. Di balik sunyi dan kelabu, puisi ini menemukan kehangatan dalam “segenggam harum yang kusebut sayang,” sebagai simbol hadirnya cinta dari perenungan yang sunyi. Puisi ini juga memancarkan nuansa spiritual dan magis, dengan penggunaan simbol seperti jemari bulan, dua malaikat, dan mantra-mantra penghuni malam yang menciptakan kesan bahwa malam adalah dunia transenden tempat berbagai rasa bercampur menjadi satu. Dalam dunia ini, waktu berjalan lambat, bahkan terasa beku, seakan memberi ruang bagi pikiran untuk mengembara tanpa batas. Imaji yang halus dan mendalam mengajak pembaca menyelami lapisan-lapisan emosi yang kompleks dari rindu yang lirih hingga cinta yang lahir dari keheningan.

Dongeng malam hari

Malam itu menatapku dengan serpihan huruf melata Menghamili setiap peristiwa diantara jemari bulan Yang datang menjelma sunyi Mengharap purnama pada angin yang tersenyum Hingga tertanam rintih gerimis bernama Rindu Kini waktu kembali melintasi lorong tanpa debu Serupa dongeng pada beningnya lukisan mendung Dengan buaian dua malaikat yang merindukan pagi Mengirimku puluhan wajah lumpuh tak bergerak Dalam butir-butir abjad dan mantra-mantra penghuni malam Sebab, tak ada hujan hadir menceritakan musim Suasana sunyi mulai menghirup aroma lamunan sayup Yang menghampiri kelabu di ubun sutra Dalam ribuan kisah pada selembar syair panjang Hingga tercipta segenggam harum yang kusebut sayang.

Eyon Erorina| Lahir di Sumenep, Mahasiswa STIT Aqidah Usymuni, Aktif Di Organisasi LPM ESENSI STITA sekaligus aktif di Sanggar Semesta & Langgar Oretan Ikatan Santri Batuputih Ponpes Aqidah Usymuni.