KOLOM, DIMADURA – Dalam setiap perayaan budaya, simbol selalu hadir sebagai pintu masuk. Simbol tampak pada hiasan, kostum, gerak tari, bahkan pada detail-detail kecil yang sering kali luput dari perhatian. Pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah:
Bagaimana kita sebagai masyarakat lokal memaknai setiap inci simbol itu? Apakah kita benar-benar mengerti, atau justru ikut-ikutan menjadikannya sekadar dekorasi belaka?
Simbol bukan benda mati. Ia lahir dari sejarah panjang, dari pergulatan hidup sebuah masyarakat, dari nilai-nilai yang diwariskan turun-temurun. Jika simbol hanya dipajang tanpa ruh, maka yang tersisa hanyalah kulit kosong. Indah dipandang, tetapi kehilangan makna. Di sinilah letak persoalannya ketika orang asing dengan mudah “mencomot” simbol-simbol kita untuk kepentingan mereka, tanpa tahu apa yang sesungguhnya mereka bawa.
Bagi mereka, itu bisa jadi hanya ornamen eksotis. Padahal, bagi kita, simbol itu adalah identitas, bahkan marwah.
Namun, kita juga perlu jujur pada diri sendiri. Tidak adil jika kita hanya menuntut orang luar memahami makna kebudayaan kita, sementara kita sendiri abai. Justru sebagai masyarakat lokal, kita berkewajiban menegaskan makna yang ada di balik simbol yang kita suguhkan. Penyelenggara acara, misalnya, tidak cukup hanya menampilkan bentuk-bentuk indah nan meriah. Mereka juga wajib memberi keterangan, membuka ruang dialog, menjelaskan kriteria dan filosofi yang menyertai simbol tersebut. Dengan begitu, orang asing tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pembelajar. Sebaliknya, orang asing yang datang dan menyaksikan seharusnya punya sikap rendah hati. Tidak cukup hanya mengagumi bentuk, warna, dan kemegahan, tetapi juga mau mencari tahu dan menginput data pengetahuan tentang filosofi yang melatarinya.
Kebudayaan bukan milik segelintir orang melainkan milik masyarakat lokal yang telah menghidupinya selama berabad-abad.
Bila keseimbangan ini tercapai, maka kebudayaan akan tampil lebih utuh. Ia bukan hanya “daya tarik” yang berhenti pada keindahan visual, tetapi juga sebuah tantangan. Menantang orang luar untuk menyelami kedalaman maknanya, menantang kita sendiri untuk menjaga agar ruh kebudayaan tidak hilang ditelan arus zaman. Pada akhirnya, simbol hanyalah pintu. Yang lebih penting adalah apa yang ada di balik pintu itu: nilai, filosofi, dan kebijaksanaan hidup. Di sanalah kita dituntut, baik sebagai tuan rumah maupun tamu asing, untuk bersikap hormat. Sebab, kebudayaan bukan sekadar tontonan, melainkan warisan yang menyatukan manusia dengan akar sejarahnya. (*)