NEWS, DIMADURA – Di saat kasus dugaan korupsi Rp23 miliar di Bank Jatim Cabang Sumenep belum juga tuntas dan satu tersangka kunci masih berstatus DPO, pimpinan baru Bambang Eko Budi Prakoso justru disebut dipanggil ke kantor pusat.
Situasi ini menempatkan publik pada satu ruang yang sama, antara penantian kepastian hukum dan tanda tanya atas langkah internal bank.
Diketahui, pemanggilan ke pusat ini muncul di tengah perkara yang belum juga kehilangan kabutnya. Satu tersangka yang disebut memiliki akses pada jalur administrasi dan pemasaran masih belum ditemukan. Sementara tersangka lainnya tetap berada dalam proses hukum.
Di tengah situasi itu, perhatian publik kini tertuju pada perkara yang berjalan, juga sosok yang kini memimpin cabang tersebut.
Perhatian publik terhadap Bambang Eko Budi Prakoso tidak berhenti pada tugas barunya di Sumenep. Nama Bambang sempat muncul dalam memori lama saat ia menjabat pimpinan cabang Bank Jatim Bondowoso, ketika kasus KUR pernah menyeret perhatian warga.
Di ruang yang sama, bayang-bayang lain ikut menyusul. Ada nama Djowieto, mantan Sekda Jember, yang sempat terpidana kasus tukar guling, disebut masih punya hubungan keluarga dengan Bambang.
Riwayat itu ikut mempertebal aroma tanya di tengah publik yang sudah lebih dulu sibuk membaca perkara fraud di tempat kerja barunya.
Satu sisi publik menunggu jawaban pusat. Sisi lain, menunggu hukum bergerak. Di tengah keduanya, pimpinan baru Bank Jatim Sumenep berdiri di ruang yang tampak lebih cocok disebut koordinasi daripada ketenangan.
Publik pun menunggu, apakah langkah ke pusat itu akan berujung pada evaluasi, klarifikasi, atau sekadar pertemuan rutin yang terdengar penting di luar, tetapi tetap sunyi di dalam.
Pimpinan Baru Bank Jatim Sumenep Dipanggil Pusat
Foto: Dokumentasi dimadura.id
NEWS, DIMADURA – Di saat kasus dugaan korupsi Rp23 miliar di Bank Jatim Cabang Sumenep belum juga tuntas dan satu tersangka kunci masih berstatus DPO, pimpinan baru Bambang Eko Budi Prakoso justru disebut dipanggil ke kantor pusat.
Situasi ini menempatkan publik pada satu ruang yang sama, antara penantian kepastian hukum dan tanda tanya atas langkah internal bank.
Diketahui, pemanggilan ke pusat ini muncul di tengah perkara yang belum juga kehilangan kabutnya. Satu tersangka yang disebut memiliki akses pada jalur administrasi dan pemasaran masih belum ditemukan. Sementara tersangka lainnya tetap berada dalam proses hukum.
Di tengah situasi itu, perhatian publik kini tertuju pada perkara yang berjalan, juga sosok yang kini memimpin cabang tersebut.
Perhatian publik terhadap Bambang Eko Budi Prakoso tidak berhenti pada tugas barunya di Sumenep. Nama Bambang sempat muncul dalam memori lama saat ia menjabat pimpinan cabang Bank Jatim Bondowoso, ketika kasus KUR pernah menyeret perhatian warga.
Di ruang yang sama, bayang-bayang lain ikut menyusul. Ada nama Djowieto, mantan Sekda Jember, yang sempat terpidana kasus tukar guling, disebut masih punya hubungan keluarga dengan Bambang.
Riwayat itu ikut mempertebal aroma tanya di tengah publik yang sudah lebih dulu sibuk membaca perkara fraud di tempat kerja barunya.
Satu sisi publik menunggu jawaban pusat. Sisi lain, menunggu hukum bergerak. Di tengah keduanya, pimpinan baru Bank Jatim Sumenep berdiri di ruang yang tampak lebih cocok disebut koordinasi daripada ketenangan.
Publik pun menunggu, apakah langkah ke pusat itu akan berujung pada evaluasi, klarifikasi, atau sekadar pertemuan rutin yang terdengar penting di luar, tetapi tetap sunyi di dalam.

