LONGLONGAN, MANCA - Pada Pemilu 2024 yang telah digelar beberapa hari kemarin, Donald Trump kembali terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat, menandai kembalinya kebijakan proteksionisme dengan slogan America First. Kebijakan ini berpotensi mempengaruhi ekonomi global, termasuk hubungan perdagangan antara Indonesia dan AS.
Di satu sisi, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, menghadapi tantangan untuk memperkuat perekonomiannya dalam situasi ini. Sementara di sisi lain, Donald Trump, sebagai pemimpin negara yang terkenal dengan negara adikuasa, kebijakan-kebijakannya tentu akan memberikan dampak terhadap ekonomi dunia.
Dalam esai sederhana ini, penulis hendak menyajikan analisa sederhana sebagai tawaran peta strategi optimal bagi Indonesia--soal dampak kebijakan proteksionisme ala Donal Trump, kaitannya dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa mempengaruhi neraca ekspor-impor Indonesia 2024.
Kebijakan Trump dan Dampaknya pada Ekonomi GlobalÂ
Proteksionisme dan Perdagangan Internasional Kebijakan proteksionisme Trump, yang meliputi kenaikan tarif impor dan renegosiasi perjanjian dagang internasional, berisiko melemahkan kerja sama multilateral.
Bhagwati (2002) dalam Free Trade Today menyatakan, bahwa proteksionisme dapat merugikan negara berkembang seperti Indonesia, yang bergantung pada ekspor komoditas ke AS, karena negara-negara akan lebih memprioritaskan ekonomi domestik daripada hubungan perdagangan internasional.
Perubahan Pola Rantai Pasok Global
Krisis pandemi dan perang dagang AS-China sebelumnya telah mempercepat restrukturisasi rantai pasok global. Gereffi (2020) dalam Global Value Chains and Development menunjukkan bahwa negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, memiliki peluang untuk lebih terintegrasi dalam rantai pasok regional. Namun, kebijakan proteksionis Trump diprediksi dapat menghambat upaya tersebut.Neraca Analitik Ekspor-Impor Indonesia 2024
Berikut adalah perkiraan neraca ekspor-impor Indonesia berdasarkan proyeksi tren 2024:
[caption id="attachment_8258" align="aligncenter" width="928"]
Tabel Prediksi Neraca Analitik Ekspor Impor Indonesia 2024 (Doc. Dimadura)[/caption]
Uraian
1. Pertanian: Kelapa sawit tetap menjadi komoditas unggulan meskipun tantangan terkait persyaratan lingkungan internasional semakin ketat. Sertifikasi keberlanjutan seperti ISPO dan RSPO akan menjadi faktor kunci akses pasar.
2. Energi: Indonesia sebagai eksportir utama batubara dan gas alam mendapatkan manfaat dari permintaan global yang tinggi. Namun, fluktuasi harga dapat mempengaruhi surplus perdagangan energi.
3. Manufaktur: Defisit terjadi pada sektor manufaktur akibat kurangnya daya saing dan investasi di teknologi tinggi. Menurut Krugman (1991) dalam Geography and Trade, keberhasilan sektor ini sangat bergantung pada daya saing logistik dan infrastruktur.

