Dulu, wartawan harus mendatangi kantor-kantor pemerintahan, bertemu langsung dengan kepala dinas atau pejabat untuk mendapatkan nomor telepon dan akses informasi.
Kini, sebagian kebutuhan itu dapat diperoleh melalui grup percakapan, kolega, siaran pers atau materi yang dikirimkan secara digital.
Kemudahan tersebut memang mempercepat kerja. Tetapi menurut Hendra, ada sesuatu yang ikut hilang, yakni hubungan personal antara wartawan dan narasumber.
AI dan Jurnalisme di Sumenep
Hendra melihat perubahan teknologi juga membawa persoalan yang lebih besar. Ia menyebut ada dekadensi dalam dunia jurnalisme hari ini.
Kemunduran itu salah satunya terlihat dari cara sebagian wartawan menjalankan kerja jurnalistik yang semakin bergantung pada kemudahan teknologi.
“Ada dekadensi dalam dunia jurnalisme hari ini. Ada kemunduran dalam segi teman-teman itu mengerjakan kerja-kerja jurnalistik,” ujarnya.
Menurutnya, pekerjaan jurnalistik tidak berhenti pada mengambil materi, mengubah judul, lalu menerbitkannya. Ada proses bertemu manusia, memahami konteks, melakukan verifikasi dan menemukan sisi lain dari sebuah peristiwa.
Karena itu, ketika teknologi digital membuat informasi begitu mudah diperoleh, wartawan justru dituntut semakin teliti. Kemudahan seharusnya tidak menghilangkan proses.
Di titik itu, ia melihat kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai perkembangan yang tidak mungkin dihindari.

