SUMENEP, DIMADURA—Tahun ini, usia parlemen Sumenep genap 70 tahun. Sejak dibentuk pada 1956, kursi DPRD Kabupaten Sumenep telah berganti penghuni berkali-kali, mengikuti perubahan zaman, partai politik, daerah pemilihan, dan pilihan warga dalam setiap pemilu.
Ada satu bagian dari perjalanan itu yang menarik untuk dilihat lebih dekat: PPEREMPUAN.
Jejak perempuan di parlemen Sumenep ternyata tumbuh pelan. Dari pemilu ke pemilu, jumlahnya memang bergerak naik, tetapi kenaikannya berlangsung sedikit demi sedikit.
Perempuan Mulai Masuk Parlemen
Data yang berhasil ditelusuri menunjukkan keterwakilan perempuan di DPRD Sumenep mulai tercatat pada Pemilu 2004.
Ketika itu, dua perempuan memperoleh kursi. Mereka adalah Endang Sri Rahayu dari Golkar dan Dewi Khalifah dari PKB.
Lima tahun kemudian, jumlah tersebut bertambah menjadi tiga. Dwita Andriani, Endang Sri Rahayu dan Rachema masuk ke parlemen melalui partai masing-masing.
Pada Pemilu 2014, jumlahnya kembali tiga orang. Ada Dwita Andriani dari PAN, Ummul Hasanah dari PDI Perjuangan dan Zulfah dari Gerindra.
Perubahan lebih terlihat pada Pemilu 2019. Empat perempuan berhasil memperoleh kursi: Nia Kurnia, Nur Aini, Siti Hosna dan Melly Sufianti.
Jumlah itu bertahan pada Pemilu 2024. Nia Kurnia dan Siti Hosna kembali terpilih. Dua kursi lainnya ditempati Virzannida dari PKB dan Afrilia Wahyuni dari NasDem.
Kalau setiap periode dihitung sebagai keterpilihan, lima pemilu tersebut menghasilkan 16 keterpilihan perempuan.

