NEWS SUMENEP,  DIMADURA — Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Sumenep yang digelar di Pondok Pesantren Annuqayah Latee, Guluk-Guluk, menjadi ruang refleksi sekaligus evaluasi atas kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan di Kabupaten Sumenep.

Forum yang masih berlangsung ini juga menjadi penanda transisi kepemimpinan PCNU Sumenep menuju periode 2025 – 2030.

Ketua PCNU Sumenep periode 2020 – 2025, KH A. Pandji Taufiq, dalam sambutan perpisahannya menyampaikan pandangan kritis mengenai kondisi daerah yang menurutnya sedang tidak berada dalam situasi baik-baik saja.

Ia menilai berbagai persoalan sosial masih membelit masyarakat, mulai dari kesenjangan ekonomi hingga kerusakan lingkungan yang kian mengkhawatirkan.

“Dengan terus terang harus saya sampaikan, kondisi Sumenep hari ini sedang tidak baik-baik saja,” tegas Kiai Pandji di hadapan peserta Konfercab, Minggu (7/12).

Ia menyoroti ancaman terhadap hampir seluruh garis pantai Sumenep akibat masifnya aktivitas usaha, mulai dari tambak udang yang mencemari lingkungan, hingga kegiatan pertambangan, eksploitasi fosfat, dan pengeboran minyak.

Menurutnya, banyak aktivitas tersebut berjalan tanpa kajian analisis dampak lingkungan (amdal) yang benar-benar substantif. “Secara administratif mungkin ada, tetapi dalam prosesnya sering kali minim. Ini menjadi kegelisahan kita bersama,” katanya.

Di sisi lain, Kiai Pandji juga menyinggung ironi Sumenep sebagai daerah yang kerap dibanggakan kaya sumber daya, namun masih menyimpan persoalan kemiskinan. Bahkan, ia menyebut angka kemiskinan Sumenep masih berada di jajaran daerah termiskin di Jawa Timur.

Atas kondisi itu, NU menyatakan kesiapan untuk bergandengan tangan dengan pemerintah daerah sebagai bentuk khidmat dalam mencari solusi bersama.

Ia berharap Konfercab NU tahun ini tidak sekadar menjadi agenda rutin organisasi, tetapi melahirkan langkah-langkah nyata untuk perbaikan Sumenep ke depan.