Karena itu, praktisi pendidikan anak usia dini itu meminta orang tua mengasuh dengan hati. Target terhadap anak juga mesti diimbangi dengan daya dukung yang memadai.

Orang tua yang menginginkan anak menguasai bidang tertentu, misalnya, perlu menyediakan lingkungan belajar, media, dan sarana yang sesuai.

Nunung melihat pola pengasuhan juga berubah antargenerasi. Orang tua dari generasi milenial, menurut dia, cenderung lebih otoriter. Sedangkan generasi Z dinilainya lebih kreatif dan humanis.

Tapi generasi yang terakhir punya persoalan lain. Banjir informasi digital. Informasi begitu mudah diterima dan diteruskan sebelum sempat dianalisis.

Mengasuh dengan Getaran Batin

Nunung merumuskan lima hal yang perlu dilakukan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak: menentukan tujuan, memperbarui pengetahuan, mengasah metode pengasuhan, menempatkan anak sebagai subjek yang interdependen, serta membangun apa yang ia sebut sebagai “vibrasi”.

Pada tahap pengasuhan, keteladanan, komitmen, dan konsistensi orang tua menjadi penting. Sedangkan vibrasi, ia artikan sebagai getaran batin orang tua kepada anak.

“Orang tua harus menggetarkan batinnya dengan doa yang baik kepada anak,” ujarnya.

Pesan agar orang tua tidak menyerahkan seluruh urusan pendidikan kepada sekolah juga disampaikan Ketua Yayasan Miftahul Huda, A. Quraisyi.

Al-Huda, kata Quraisyi, sengaja banyak mengundang ibu dalam halaqah tersebut. Alasannya sederhana. Dalam keseharian, ibu umumnya memiliki intensitas interaksi yang lebih tinggi dengan anak.

“Kami berharap orang tua ikut berperan aktif mendidik anak, tidak sekadar menyerahkannya kepada guru,” katanya.