Penulis: Ahmad Wasil – Penyuluh Agama Kabupaten Sumenep

 

KOLOMAgustus selalu datang dengan warna yang sama. Merah dan putih. Bendera berkibar di setiap sudut jalan, lagu kebangsaan menggema dari pengeras suara, pidato tentang patriotisme kembali diperdengarkan.

Negeri ini tampak begitu mencintai simbol. Sayangnya, simbol lebih sering dirawat daripada makna.

Kita membangun tiang bendera setinggi mungkin, tetapi membiarkan keadilan berkibar setengah tiang. Kita fasih menghafal sejarah perjuangan, tetapi gagap membaca kenyataan. Kemerdekaan akhirnya berubah menjadi kalender perayaan, bukan kompas kehidupan.

Republik ini, barangkali, tidak sedang kekurangan nasionalisme. Yang hilang justru keberanian untuk bercermin.

Dulu penjajah datang dengan kapal perang.

Hari ini, ia datang tanpa seragam. Ia hidup dalam kebiasaan memuja jabatan lebih tinggi daripada integritas. Ia bersembunyi di balik meja birokrasi yang membuat pelayanan terasa seperti belas kasihan. Ia tumbuh subur ketika hukum kehilangan ketegasan di hadapan yang kuat, tetapi menunjukkan taring kepada yang lemah.

Penjajahan telah berganti wajah. Yang dijajah bukan lagi tanah, melainkan akal sehat.

Di ruang publik, kebenaran diperlakukan seperti barang lelang. Nilainya ditentukan oleh siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan. Fakta dipoles hingga menyerupai propaganda. Kebohongan dikemas rapi sebagai opini.