THOK THOK THOK

  • Semacam Puisi: M Hendra Efendi
Thok Thok Thok Bisa bicara dengan Tuhan? Ini aku, diriku, jiwa yang angkuh Sudah sekian lama bergolak dalam temaram lampu kota Setiap hari, waktu terus menarikku Jiwa ini sungguh telah hitam Kelam, dalam panas dan hujan Terbahak, dalam sedih dan kecewa Meradang! Thok Thok Thok Bisa bicara dengan Tuhan? Kau lihatkah betapa jemari ini begitu lihai menari, menimang-nimang keberuntungan, O.. Wahai, Pengendali Jiwa! Kau lihatlah jiwa yang angkuh ini terus meronta Berpikir, merasa, mengira, dan kini malah terperangkap dalam keping logam berjatuhan Mata yang menipu Duka pun bertakhta, O Wahai Engkau yang Mahakuasa Ini luka tak berdarah Jiwa yang angkuh terus kian dipaksa Thok. Thok. Thok. Oi... Ada orang di dalam? Ini musim dan cuaca dingin dan gigil Asa jiwa, pedih berkuah, lintang bertakhta Oi... Jiwa yang angkuh Apa yang ku cari Airmu sudah mulai tak jernih Tanahmu sudah tidak tumbuh benih Sementara suara angin terus berkecamuk di jantungmu Oi.. ada yang dengar? Ini aku, jiwa yang lungkrah Sekali ini, O Thok. Thok. Thok. Bisa bicara dengan Tuhan? Pamekasan, 26 Januari 2024
BACA JUGA: Profil Abdul Hadi WM: Latar Belakang Keluarga, Pendidikan, Karir dan Karya
[caption id="attachment_3599" align="aligncenter" width="736"]Ilustrasi Puisi M Hendra Efendi: "Anak Sareang, Lelakiku" (Istimewa) Ilustrasi Puisi M Hendra Efendi: "Anak Sareang, Lelakiku" (Istimewa)[/caption]

Anak Sareang, Lelakiku!

Nak! Aku tak ingin melupa Kau sudah besar, dan kita terus dijemput usia Aku dan angka-angka di tubuhmu tak terasa Januari 6 tahun lalu, ada tangismu Dalam dekapan hujan yang lembut, dibuai semilir angin yang menghempas Genteng-genteng bergemuruh tak berkesudahan Raut wajah ibumu, dan doanya dikabulkan Kumandang suara adzan itu kulantunkan Tembok-tembok, kaca dan jendela menjadi saksi Mataku, mata kamu, dan mata ibumu bertemu Nak! aku tak ingin melupa Nanti kau akan pula menjadi aku Teriakanmu adalah teriakanku di kedalaman jiwa yang membekas Buku kosong kau dekap Isi cerita kau buat Mengucap, merangkak, dan berdiri tegak di kepala Pada sakitmu, itu aku; Lesung pipi digayung alis tebal di bawah mata yang sendu, itu aku; Gelisah dan tawamu, itu aku; Jangan katakan kau terluka, karena itu, aku; Bila usapan tangan ibumu menyelimuti harimu Maka pelukanku menjadi tameng waktumu Bila kasih sayang ibumu bertajuk cinta Maka pengorbananku dipikul asa Aku, kau, dan ya, kita, jangan melupa Januari 6 tahun lalu, lentik jemarimu kugenggam Ibumu dan ibumu, kita semua adalah sama Aku dan kau akan terus dijemput usia Anak Sareang, lelakiku! Bilamana musim tak menjawab cuaca Masih ada waktu yang setia di tengah selaksa Begitu banyak peristiwa dibingkis lantunan doa Dariku, dan semua darah-darah leluhurmu Anak sareang, lelakiku! Hidupku adalah hidupmu di masa mendatang Bila aku lari, bekas kenangan itu ada di lorong waktu Bila aku menghilang, landai dan perlahan cahayanya masih terang saat petang Hanya kau, pelita yang berjalan di masa mendatang Pamekasan, 28 Januari 2024
BACA JUGA:
[caption id="attachment_3602" align="aligncenter" width="730"]Ilustrasi Puisi "Ada Kopi yang Tak Kuhabiskan" (Foto: Arsip DimaduraID) Ilustrasi Puisi "Ada Kopi yang Tak Kuhabiskan" (Foto: Arsip DimaduraID)[/caption]

Sebentar; Ada Kopi yang Tak Kuhabiskan

Hitam pekat, suka manis dituang gula Ya, kopiku yang tak bernada Baris-berbaris tetesannya diantar oleh bubuk beraroma, bermacam rasa Seruput tak sampai, telingaku sudah pening, nyaring melengking suaranya Kukira, kau kopiku berbicara! Ah, sudahlah! Lewat sebentar di malam yang hilang dalam jiwa yang tak tenang Kini ku tak lagi dengan bayangan, hitammu sudah menggantikan posisi risau berkesudahan Sebelum kuhabiskan, bolehkah kumenghapus bekas bibirku dalam secangkir kopi itu? Sebentar; ada kopi yang tak kuhabiskan Ceritaku memang tertuang dalam rasa kopi hitam itu Kadang, manisnya kutemukan dalam cerita pagi hingga malam Pada gula, kutitipkan rasa yang berubah jikalau sudah tak memiliki tuan Kopi kuseduh dalam tarikan tak terbatas Tarian-tarian di kepala membentuk abjad panjang mencari kalimat Sudah kutulis, lalu hilang lagi di kepulan asap Bukan rencana, tapi wasiat takdir yang tak mengikat Ternyata ku lupa! Sebentar; ada kopi yang tak kuhabiskan Bila mana waktu menolak berkawan Rasanya ingin kutinggalkan sebagai bentuk perlawanan Hanya saja ku lupa! Tanpa kopiku, manis gula itu tak bisa terbayarkan Bayangkan, kutinggalkan jejak malam, pagi itu, kembali datang Sampai kapan? Ah! Sebentar; ada kopi yang tak kuhabiskan Pamekasan, 26 Januari 2024