NEWS DIMADURA, SUMENEP – Dua Calon Bupati Sumenep 2024-2029, KH Ali Fikri A Warits dan Achmad Fauzi Wongsojudo, diundang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dalam program Kanan-Kiri Podcast yang mengangkat tema "Mengenal Lebih Dekat Calon Bupati Sumenep".
Dalam kesempatan itu, Achmad Fauzi berhalangan hadir tetapi dialog interaktif yang dimoderatori oleh Natasya Wildan (host) tetap berlangsung bersama Mas Kiai, sapaan akrab, KH Ali Fikri A Warits, Jumat (18/10) di Cafè Rassa, Jalan Trunojoyo, Sumenep, Madura.
"Tim PWI Talk mengundang semua Cabup untuk podcast satu panggung, hanya saja Cabup nomor urut 2 berhalangan hadir, sehingga dengan yang bersangkutan akan di-reschedule," demikian keterangan yang tertera di pamflet PWI Talk.
[caption id="attachment_7576" align="aligncenter" width="738"]
Pamflet Program Kanan-Kiri Podcast PWI Talk (Istimewa for dimadura)[/caption]
Ada sejumlah topik yang dibahas oleh Mas Kiai atas pemantik podcast, Natasya Wildan, yang salah satunya adalah topik tentang money politic atau politik uang. Menurut Mas Kiai, masyarakat Sumenep kini sudah kian cerdas dalam berpolitik.
Cabup Mas Kiai Calon Bupati Sumenep nomor urut 1, KH Ali Fikri A Warits, atau yang akrab disapa Mas Kiai, menekankan pentingnya kecerdasan masyarakat dalam menghadapi politik uang menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumenep 2024. Ia pun mengapresiasi meningkatnya kesadaran politik di kalangan masyarakat pada saat dialog interaktif tersebut.
“Pengalaman masyarakat dalam pemilihan umum sebelumnya menunjukkan bahwa rakyat sudah memiliki kecerdasan politik,†ujar Mas Kiai.
Ia mengungkapkan alasan mengapa pernyataan tersebut ia sampaikan di tengah diskusi demi memperkuat komitmen terhadap pemilu yang bersih dan berintegritas.
Mas Kiai kemudian menyinggung potensi bahaya yang mengintai jika calon pemimpin menggunakan politik uang sebagai strategi untuk meraih suara. Menurutnya, kandidat yang mengandalkan politik uang cenderung menyalahgunakan kekuasaan setelah terpilih.
“Saat ini, pilihan ada di tangan rakyat. Apakah mereka akan memilih calon yang menggunakan politik uang atau pemimpin yang benar-benar berorientasi pada kepentingan rakyat,†tegasnya.
Mas Kiai mengingatkan bahwa masyarakat memiliki peran krusial dalam menentukan arah kepemimpinan daerah melalui keputusan yang bijak di tempat pemungutan suara.