NEWS SUMENEP, DIMADURA – Festival Garam yang digelar di Desa Pinggirpapas, Kecamatan Kalianget, mendapat kecaman dari sejumlah pihak. Setelah disebut warga sebagai perampok tradisi, Budayawan Sumenep, Tadjul Arifien R juga angkat suara.
Alih-alih dianggap mengangkat potensi lokal, Festival Garam yang digelar di Desa Pinggirpapas itu dinilai sebagai seremonial mubadzir.
Tadjul Arifien menegaskan bahwa kegiatan seremonial semacam ini justru bertentangan dengan arahan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, yang meminta daerah menerapkan efisiensi anggaran.
“Kurangi acara seremonial sesuai dengan himbauan Bapak Tito Karnavian. Apalagi sebentar lagi ada acara spektakuler Hari Jadi yang pasti menghabiskan APBD ratusan juta hingga miliaran rupiah,†tegasnya, Senin (22/9/2025).
Ia juga menilai acara besar yang digelar hanya untuk menyemarakkan halusinasi sejarah tidak membawa manfaat nyata. Narasi tentang Arya Wiraraja, misalnya, menurutnya kerap dibelokkan.
“Bukan dilantik oleh Raja Kertanegara, tapi dinonaktifkan atau dibuang ke Sumenep,†imbuhnya.
Karena itu, ia meminta agar pelaksanaan Festival Garam tidak asal-asalan. “Kalau mau bikin Festival Garam, mestinya berunding atau minta restu dulu pada keturunannya, bukan asal jiplak demi dapat cuan proyek. Dana APBD ratusan juta itu lebih baik dipakai untuk pengentasan kemiskinan di Sumenep yang masih di kisaran 17,78 persen,†paparnya.
Ia bahkan menyindir citra daerah yang selama ini diagung-agungkan. “Oke… rubah saja Sumenep bukan Kota Keris menjadi Kota Seremonial,†sindirnya.
Menurutnya, lebih dari 200 ribu warga Sumenep hidup dalam kondisi rawan pangan, namun pemerintah daerah justru sibuk dengan kegiatan seremonial.
“Lebih baik Pemkab Sumenep memberikan solusi agar harga jual garam rakyat tidak anjlok, daripada menghamburkan dana APBD untuk hura-hura yang hanya membuat bupati senang,†pungkas Tadjul Arifien R.

