Diberitakan sebelumnya,
Pemuda Desa Pinggirpapas, Syamsul Hadi ST, menyatakan bahwa Festival Garam tidak berangkat dari akar budaya desa, melainkan hanya proyek seremonial yang mengatasnamakan kearifan lokal.
“Ini pesta pora yang merampok tradisi. Tidak ada musyawarah dengan masyarakat, tiba-tiba diputuskan begitu saja,†ungkapnya dengan nada kecewa.
Sementata itu, pihak Humas PT Garam, Miftahul Arifien, membantah bahwa acara tersebut merupakan kegiatan perusahaan. “Itu acara Disparbud, bukan acaranya PT Garam,†jelasnya.
Ia bahkan mengaku tidak menghadiri acara tersebut. “Kebetulan untuk itu saya tidak bisa datang, ada maulid di tetangga, ternyata itu Festival Garam,†imbuhnya.
Saat ditanya apakah PT Garam diminta kontribusi dalam festival ini, ia meminta agar hal tersebut ditanyakan langsung ke Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar).
“Kalau itu coba tanya ke Disparbud saja, itu yang tahu kepala pegaramannya, yang punya wilayah,†ucapnya.
Di sisi lain, kritik publik terhadap Festival Garam semakin tajam karena berbarengan dengan sorotan lama soal banjir musiman di jalan poros Sumenep.
Mei lalu, Bupati Achmad Fauzi sempat menegur PT Garam karena dianggap tidak serius dalam menangani persoalan banjir. Bahkan warga Patean dan Nambakor kerap menghadapi genangan setinggi lutut orang dewasa setiap musim hujan.
Dikonfirmasi, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Sumenep, Mohamad Iksan, belum memberikan respons atas berbagai kritik yang dialamatkan terhadap Festival Garam.

