WAWANCARA, DIMADURA Rencana kedatangan Mendikdasmen RI, Abdul Mu’ti, ke Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, yang dijadwal berlangsung tanggal 24 Mei 2026 di Stadion Gelora Ratu Pamelingan (SGRP) menuai respon pro dan kontra di kalangan organisasi kemahasiswaan.

Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pamekasan, Mohammad Ali Nizar, melihat kedatangan menteri sebagai peluang emas untuk perbaikan pendidikan di Kabupaten Pamekasan.

Sementara Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Pamekasan, Fahril Anwar, mengingatkan agar kunjungan tersebut tidak hanya menjadi seremoni atau pencitraan semata.

Menanggapi hal itu, Kader HMI Pamekasan, Agus Budiyomo, menilai polemik kedatangan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Abdul Mu’ti harus dibaca secara bijak dan proporsional.

Menurut Agus, munculnya dua pandangan berbeda dari organisasi mahasiswa tersebut merupakan hal yang wajar dalam iklim demokrasi kampus.

"Sebagai organisasi independen, HMI memandang kedua sikap tersebut bukanlah pertentangan, melainkan saling melengkapi," kata Agus kepada media ini, Sabtu (23/5).

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Madura (UIM) Pamekasan ini menilai, dua pandangan itu lahir dari keresahan yang sama terhadap kondisi pendidikan di Pamekasan yang masih menyisakan banyak persoalan.

“Sikap optimisme dan kolaborasi dari IMM sangat diperlukan untuk membuka akses perhatian pemerintah pusat. Di sisi lain, sikap kritis dan waspada dari PMII menjadi kontrol sosial penting agar realitas persoalan pendidikan tidak tertutupi oleh kemeriahan acara,” jelasnya.

Ia menegaskan, persoalan seperti sekolah rusak, fasilitas minim, pemerataan kualitas pendidikan, hingga tata kelola pendidikan memang harus menjadi perhatian bersama.

Karena itu, sambung dia, momentum kedatangan Menteri Pendidikan harus diarahkan sebagai ruang evaluasi dan solusi konkret, bukan sekadar agenda simbolik.