Oleh: M. Thofu Khairullah — Pengamat Bahasa dan Pecinta Toilet Umum yang Bersih
PANGKÈNG, KOSAKATA – Pernahkah paramaos merasa sangat terdesak ingin buang air besar, sebegitu mendesaknya sampai rasanya seperti ada “sesuatu†yang sudah di ambang pintu keluar, mengetuk-ngetuk, meminta izin untuk bebas? Bila ya, maka paramaos, tanpa sadar, sedang mengalami situasi yang dalam bahasa Madura disebut dengan indah dan getir sebagai: mo’-ngomo’.
Kata ini, walau terdengar seperti plesetan jenaka atau bahkan sumpah serapah, justru adalah salah satu contoh keunikan morfologis dalam bahasa daerah yang jarang disorot dalam buku-buku linguistik populer.
Padahal, kalau kita mau jujur (atau dalam bahasa Madura: jhur-jhujhurân), kata seperti mo'-ngomo' mengandung struktur kebahasaan yang padat makna dan sarat dengan nuansa budaya lokal.
Antara Feses dan Fonologi: Apa Itu Mo’-Ngomo’?
Secara situasional, mo’-ngomo’ menggambarkan keadaan tubuh yang sedang mengalami tekanan hebat dari dalam, dimana feses sudah tidak tahan berada di dalam, dan sudah menyembul di pintu anus.
Dalam bahasa Indonesia, mungkin kita akan menyebutnya sebagai kebelet berak parah, BAB darurat, atau kalau pakai istilah anak kos: tolong, toilet mana, ini genting!
Namun yang menarik bukan hanya artinya, tapi struktur kata ini sendiri. Mo’-ngomo’ bukanlah gabungan dari “mo’†dan “ngomo’†secara semantis, dan juga bukan onomatope seperti “bluk!†atau “duar!â€.
Ia adalah produk dari sistem morfologi khas bahasa Madura, dimana pengulangan suku kata terakhir dari kata kerja bisa membentuk makna baru yang lebih spesifik; baik secara intensitas, suasana, maupun keadaan.
Bandingkan dengan bahasa Indonesia yang lebih “formal dan sopan santunâ€, dimana pengulangan lebih umum terjadi pada kata benda atau aktivitas santai seperti jalan-jalan, makan-makan, atau kuda-kudaan.
Dalam bahasa Madura, kita punya mo’-ngomo’, sebagai bentuk pengulangan dari bagian akhir kata kerja yang mengandung penekanan makna, urgensi, bahkan kejujuran batin.