Mo’-Ngomo’ dalam Kajian Linguistik
Dari kacamata linguistik, mo’-ngomo’ layak dijadikan contoh hidup untuk menjelaskan bagaimana pengulangan akhir suku kata pada verba dalam bahasa Madura membentuk aspek semantis tambahan.
Ini bukan hanya perihal repetisi suara, tapi juga semacam ekspansi makna dan nuansa, terutama dalam hal keadaan tubuh yang mendesak dan nyaris tak bisa ditawar.
Sebagai catatan, fenomena seperti ini jarang (untuk tidak mengatakan tak ada) dalam bahasa Indonesia. Bahasa nasional kita cenderung menghindari bentuk-bentuk ekspresif ekstrem dalam ranah kata kerja.
Di sinilah terlihat bahwa bahasa Madura lebih ekspresif, lebih jujur, dan barangkali, lebih manusiawi.
Dalam konteks lain, bahasa Indonesia akan memilih eufemisme seperti “mau ke belakangâ€, “ke kamar kecilâ€, atau “ada panggilan alamâ€. Tapi bahasa Madura? Langsung to the point: mo’-ngomo’. Tak ada tabir. Tak ada basa-basi. Realistis. Urgensi diletakkan pada tempatnya.
Mo'-ngomo': Bahasa, Budaya, dan Perut
Sebagai penutup (dan semoga belum mo’-ngomo’ saat membacanya), saya ingin menyampaikan bahwa bahasa daerah seperti Madura menyimpan kekayaan bukan hanya dalam kosakata, tapi juga dalam cara kerja bahasa itu sendiri.
Pengulangan seperti pada mo’-ngomo’ bukan bentuk iseng-iseng, tapi justru memperlihatkan struktur morfologis yang hidup, adaptif, dan berpijak pada pengalaman manusia yang paling dasar: rasa mules.
Jadi, lain kali jika Anda berada di Madura dan mendengar seseorang berteriak “Aduh, mo’-ngomo’!â€, tolong, jangan tertawa dulu. Hargailah. Itu adalah bentuk paling jujur dari komunikasi, antara tubuh dan bahasa, antara perut dan kata.
Maka segeralah arahkan ia ke toilet, sebab ia sedang berhadapan langsung dengan panggilan alam yang sangat genting! ***
M. Thofu Khairullah | Pengamat Bahasa dan Pecinta Toilet Umum yang Bersih