NEWS ADVERTORIAL - "
Aksi kemanusiaan paling mudah itu ya
donor darah." Demikian kata Pimpinan Cabang (
Pinca) Kantor
BRI Sumenep,
Heru H., seusai melakukan
donor darah bersama para karyawan, Selasa (7/5).
Pinca Heru mengungkapkan seberapa penting
donor darah bagi diri dan keluarganya. Hal tersebut didasarkan pada pengalaman saat ia bertugas di luar Madura dan bagaimana kondisi saat sang istri hendak melahirkan buah hati mereka berdua.
"Waktu itu saya masih bertugas.. apa di Papua atau sudah di Surabaya, saya lupa," kata Heru mengawali kisah, "malem-malem istri saya hendak melahirkan dan sedang dalam keadaan darurat," imbuhnya.
Dan ternyata istrinya harus menjalani operasi sesar, butuh 3 kantong darah, waktu itu juga. "Karena ketuban sudah pecah segala macem ya," katanya.
Ia pun mengaku sempat panik karena pada waktu itu juga ia harus mendapatkan 3 kantong darah untuk dapat menyelamatkan nyawa istri dan anaknya.
BACA JUGA: Tiap Bulan, Kubutuhan Stok Darah untuk Kabupaten
Sumenep 800 hingga 1000 Kantong
https://dimadura.id/tiap-bulan-kubutuhan-stok-darah-untuk-kabupaten-
sumenep-800-hingga-1000-kantong/
"Jadi dari situlah ternyata, pada saat dibutuhkan dan butuh tindakan, dalam hal ini operasi, setetes darah yang kita punya itu amat sangat berguna untuk menolong orang lain," simpul dia.
Melihat kondisi sang istri kala itu,
Pinca Heru jadi merasa perlu mengagendakan kegiatan
donor darah untuk dirinya sebagai Pemimpin Cabang
BRI Sumenep, juga untuk para karyawan setempat.
"Kegiatan
donor darah ini sangat positif dan amat sangat bermanfaat bagi sesama," ujarnya.
Ia pun memerintahkan bawahannya untuk memasukkan kegiatan
donor darah dalam agenda rutin triwulan program
BRI Branch Office Sumenep.
"Saya harap ini nanti bisa dijadikan program rutin tiap tiga bulan satu kali, untuk diri saya sendiri, karyawan, atau barangkali juga ada pendonor yang dari luar, nanti kita bantu fasilitasi juga," pesannya.
"
Aksi kemanusiaan yang saya kira cukup mudah itu ya ini, kita mulai dari diri sendiri dan para karyawan," pungkas
Pinca BRI Sumenep,
Heru H.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Unit
Donor Darah PMI Kabupaten
Sumenep, dr. Suci Ernawati mengatakan, kebutuhan
stok darah untuk kabupaten berlambang kuda terbang tahun ini cukup banyak.
BACA JUGA: Mimpi Ibunda Wabup Dewi Khalifah Dikejar Mobil Merah hingga Menyeberang Kegelapan
https://dimadura.id/mimpi-ibunda-wabup-dewi-khalifah-dikejar-mobil-merah-hingga-menyeberang-kegelapan/
"Jadi kebutuhan
stok darah di kami, rata-rata setiap bulan itu 800 kantong, kadang 900 bahkan terkadang mencapai 1000 kantong darah," ungkap
dr Suci Ernawati.
Untuk memenuhi target jumlah
stok darah sebanyak itu, pihaknya berharap masyarakat
Sumenep secara umum bisa turut membantu keterpenuhan
stok darah yang dibutuhkan.
"Jika bukan dari masyarakat atau relawan yang mau menyumbangkan darahnya, maka darimana kita bisa memenuhi kebutuhan itu?" katanya.
"Karena darah itu kan ndak ada, mau beli di Pasar Anom, mau beli atau nangghâ' (borong, red) ke Surabaya juga ndak ada," tukasnya menambahkan.
Sementara kebutuhan terhadap
stok darah yang harus pihaknya salurkan tidak hanya dalam lingkup rumah sakit yang ada di daratan, melainkan juga untuk warga kepulauan.
[caption id="attachment_4447" align="aligncenter" width="730"]

ANTUSIAS: Sejumlah karyawan
BRI Branch Office Sumenep saat kegiatan
donor darah (Foto: Mazdon/Arsip Dimadura)[/caption]
"Kami tidak hanya melayani rumah sakit yang ada di daratan, seperti rumah sakit Abuya di kepulauan, termasuk rumah sakit swasta dan klinik juga kita layani semua. Kita membuka layanan
donor darah di kantor, dan itu 24 jam nonstop," tuturnya.
Tidak melulu berharap, saat ini
PMI Sumenep menurutnya sedang menggalakkan kegiatan
donor darah secara mobile.
"Artinya kita jemput bola, kita datang ke instansi, lembaga, organisasi, dan sekolah," katanya.
Sebelum mengakhiri keterangan, dr Suci mengucapkan terima kasih kepada BRI Brach Office
Sumenep yang mau bekerjasama dengan PMI Kabupaten setempat.
"Jadi saya sangat berterima kasih, hari ini BRI telah membantu kami dalam tugas kemanusiaan. Semoga kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi terus ada," pungkas
dr Suci Ernawati.***