Bupati Sumenep Apresiasi Peresmian Desa Juruan Daya sebagai Desa Binaan UT Surabaya
NEWS DIMADURA, SUMENEP–Universitas Terbuka (UT) Surabaya meresmikan Desa Juruan Daya, Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Sumenep, sebagai desa binaan berbasis potensi lokal dan teknologi ramah lingkungan.
Program ini merupakan proses perjuangan dari pendampingan sejak 2021 yang berfokus pada pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, melalui Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kabupaten Sumenep, Benny Irawan, menyampaikan apresiasi kepada UT Surabaya, khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, atas komitmennya dalam mewujudkan tridarma perguruan tinggi.
“Sejak tahun 2021, Desa Juruan Daya telah menjadi lokasi binaan yang menunjukkan kolaborasi nyata antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat. Berbagai capaian telah diraih, mulai dari perancangan wisata Pantai Galung hingga pengembangan wahana permainan anak, pelatihan pelayanan, penguatan karakter, hingga pelatihan bagi guru SD,” ujar Benny.
Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadikan Desa Juruan Daya sebagai ikon desa wisata yang berdaya saing. Namun, ia menekankan bahwa inovasi tidak boleh berhenti di tengah jalan.
“Inovasi harus tumbuh dari akar masalah. Dari belantara, Pantai Galung kini menjadi destinasi wisata baru. Tantangan kita berikutnya adalah memastikan keberlanjutan dan dampak nyata bagi masyarakat,” katanya.
Benny menambahkan, keberlanjutan program membutuhkan kolaborasi semua pihak, baik pemerintah daerah, akademisi, maupun masyarakat.
“Saya berharap Desa Juruan Daya bisa menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengembangkan potensi wisata,” tuturnya.
Sementara itu, Koordinator Tim Pengabdian kepada Masyarakat UT Surabaya, Sucipto, menegaskan bahwa pembangunan kawasan wisata di Desa Juruan Daya membutuhkan proses panjang dan kerja sama berbagai elemen.
“Pendampingan ini kami lakukan sejak 2021 hingga 2025, kecuali sempat terhenti pada 2022 karena pemilihan kepala desa. Membangun pariwisata dari nol bukan hal yang bisa dilakukan satu institusi saja. Butuh waktu, tahapan, dan kebersamaan,” ujar Sucipto.
Ia menambahkan, membangun kawasan wisata bukanlah perlombaan, melainkan proses bertahap yang harus dilakukan dengan konsisten.
“Kalau Tuhan berkehendak, tidak ada yang bisa menghalangi ikhtiar kita. Bersama UT dan semua elemen, kami optimistis Desa Juruan Daya bisa berkembang menjadi destinasi yang membanggakan Kabupaten Sumenep,” katanya.
kepala Desa Juruan Daya, Zumiasih, menyampaikan bahwa program pembinaan tersebut telah membawa perubahan besar bagi wilayahnya.
”Dulu desa kami hanyalah semak belukar dan hutan belantara. Alhamdulillah, sekarang meski belum sempurna, namun bagi kami ini sudah sangat indah,” ujarnya.
Kini, kawasan Desa Jurangdaya mulai berkembang menjadi destinasi wisata. Hal itu terlihat dari meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung.
Zumiasih berharap dari perubahan tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat ekonomi serta sosial bagi masyarakat Desa Jurangdaya
”Sekarang banyak mobil yang parkir di sekitar area wisata, pemandangan yang dulu tidak pernah ada,” tambahnya.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow




