BUDAYA, DIMADURA — Sekitar 4.000 warga Desa Ambunten Tengah, Kecamatan Ambunten, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mengikuti "Rokat Bhumè" pada Selasa malam tanggal 8 September 2026. Warga dari sejumlah dusun berjalan kaki menuju lokasi utama sambil membawa obor dan membaca Burdah.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tahlil, hafalan santri, Sholawat Qiyam, ceramah keagamaan, serta pertunjukan musik tradisional tong-tong Lendhu Sagara.
Kepala Desa Ambunten Tengah, Hj. Fatmiyatun, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Pelaksanaan Rokat Bhumè melibatkan guru ngaji, santri, pemuda, tokoh masyarakat dan warga dari sejumlah dusun.
Rokat Bhumè merupakan tradisi masyarakat Madura yang berkaitan dengan doa, rasa syukur dan harapan atas keselamatan. Di Ambunten Tengah, tradisi ini tetap digelar dengan mengandalkan partisipasi masyarakat.
Tokoh pemuda setempat, Achmad Munsharif alias Ayik, mengatakan keterlibatan warga menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih mendapat tempat di masyarakat.
“Ketika masyarakat mampu bergerak bersama, itu menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat dalam kehidupan warga,” kata Ayik.
Menurut dia, keterlibatan santri dan pemuda penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi. Para santri ikut dalam arak-arakan sekaligus tampil dalam rangkaian kegiatan keagamaan.
“Kalau generasi muda tidak dilibatkan, tradisi akan berhenti sebagai cerita. Hari ini anak-anak muda dan santri ikut berjalan membawa obor, membaca Burdah, bersholawat dan menjaga tradisi. Itu yang harus kita rawat,” ujarnya.
Pelaksanaan Rokat Bhumè tahun ini lebih banyak mengandalkan inisiatif dan gotong royong masyarakat. Warga, pemuda, santri dan tokoh masyarakat terlibat dalam persiapan hingga pelaksanaan kegiatan.
Ayik mengatakan masyarakat tidak meminta Pemerintah Kabupaten Sumenep mengambil alih kegiatan. Namun, dia berharap pemerintah daerah memberi perhatian terhadap tradisi yang tumbuh di masyarakat.
Menurut dia, dukungan itu tidak harus berupa anggaran, tetapi dapat dilakukan melalui fasilitasi, promosi kebudayaan, dan upaya pelestarian tradisi.
“Kami ingin pemerintah hadir bersama masyarakat. Ini bukan persoalan siapa yang membiayai siapa. Ini tentang bagaimana pemerintah menunjukkan keberpihakan terhadap kebudayaan lokal dan masyarakat yang selama ini menjaga tradisi dengan kemampuan sendiri,” katanya.
Dia berharap Rokat Bhumè dapat berkembang menjadi salah satu identitas budaya Ambunten Tengah dan dikenal lebih luas.
“Kami ingin Rokat Bhumè ini bukan hanya menjadi acara tahunan. Kami ingin ini menjadi identitas budaya Ambunten Tengah yang dikenal lebih luas. Masyarakat sudah memulai dan membuktikan,” harap dia. ***

