‎NEWS SUMENEP, DIMADURA–Komunitas Warung Madura Jawa Timur menyampaikan duka cita atas meninggalnya sejumlah peserta pelatihan yang merupakan calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP). 

‎Mereka meninggal dunia saat mengikuti pelatihan wajib militer yang menjadi bagian dari tahapan seleksi calon manajer koperasi tersebut.

‎Ketua Komunitas Warung Madura Jawa Timur, Junaidi, mengatakan pihaknya turut berbelasungkawa kepada seluruh keluarga korban. Ia mendoakan agar para peserta yang meninggal dunia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

‎"Semoga para korban wafat dalam keadaan syahid. Mereka sedang berjuang memenuhi persyaratan untuk bekerja dan mencari nafkah bagi keluarganya," ucap Junaidi dalam keterangan tertulis yang diterima, Minggu (28/6/2026).

‎Pada kesempatan itu, Junaidi juga mengkritik kebijakan yang mewajibkan calon pengelola dan manajer KDMP mengikuti pelatihan bercorak militer. 

‎Menurut dia, kebijakan tersebut perlu dievaluasi karena dinilai kurang selaras dengan fungsi utama koperasi sebagai lembaga ekonomi berbasis masyarakat.

‎Ia berpendapat, koperasi desa semestinya lebih menitikberatkan penguatan kapasitas manajemen usaha, pengembangan usaha mikro, efisiensi rantai pasok, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat dibandingkan pembinaan dengan pendekatan militeristik.

‎"Patriotisme koperasi tidak diukur dari kemampuan baris-berbaris atau latihan fisik militer, melainkan dari kontribusi nyata dalam menggerakkan perekonomian desa dan kelurahan," jelas Junaidi.

‎Menurut dia, para pelaku usaha kecil, termasuk jaringan Warung Madura, telah menunjukkan bentuk kecintaan terhadap bangsa melalui aktivitas ekonomi sehari-hari.

‎"Kami menjual produk-produk dalam negeri dan melayani masyarakat selama 24 jam. Jika suatu saat negara membutuhkan, kami siap membela tanah air. Namun, pengelolaan koperasi tetap membutuhkan kompetensi bisnis dan tata kelola yang profesional," ujarnya.

‎Selain menyampaikan kritik, Komunitas Warung Madura Jawa Timur juga menawarkan diri untuk menjadi mitra dalam penguatan tata kelola KDMP. 

‎Junaidi menilai pengalaman jaringan Warung Madura selama bertahun-tahun dapat menjadi referensi dalam membangun koperasi yang lebih produktif dan berkelanjutan.

‎Menurut dia, terdapat sejumlah aspek yang dapat dibagikan kepada pengelola KDMP, antara lain :

‎1. ​Manajemen Stok & Logistik Kerakyatan: Formula perputaran modal cepat (tingkat turnover tinggi) pada tingkat mikro dengan pengelolaan inventaris yang presisi untuk meminimalkan kerugian koperasi.

‎Manajemen Rantai Pasok (Supply Chain): Jaringan distribusi dari produsen ke konsumen akhir yang memotong jalur tengkulak, memastikan harga pangan di desa/kelurahan tetap murah dan stabil.  

‎2. ​Manajemen Pemasaran Digital & Pelayanan Pelanggan: Pemanfaatan live streaming TikTok dan platform digital untuk memperluas pasar produk desa, dipadukan dengan kultur pelayanan prima 24 jam.  

‎3. ​Manajemen Keuangan Mikro: Tata kelola arus kas (cash flow) harian yang disiplin, transparan, dan akuntabel guna memastikan keberlanjutan usaha koperasi.

‎"Selama puluhan tahun, Warung Madura telah membangun sistem usaha yang mampu bertahan menghadapi berbagai dinamika pasar. Pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat tata kelola koperasi desa," ungkapnya.

‎Lebih lanjut, Junaidi menyampaikan tiga rekomendasi Kebijakan dan Visi Masa Depan KDMP kepada pemerintah. 

‎1. ​Menghentikan Segera syarat wajib militer bagi calon pengelola dan manajer KDMP, serta mengalihkan fokus pelatihan pada kompetensi manajemen bisnis kerakyatan.  

‎2. ​Membuka Peluang Keterlibatan Publik bagi para praktisi dan penjaga Warung Madura untuk menduduki posisi strategis sebagai Manager KDMP, berbekal pengalaman, jam terbang, dan ketangguhan lapangan yang sudah teruji di sektor riil.  

‎3. ​Melakukan Transformasi KDMP agar tidak terjebak menjadi birokrasi baru di tingkat desa, melainkan tumbuh sebagai badan usaha koperasi yang modern, produktif, dan menjadi motor pengger

‎"Koperasi dibangun atas asas kekeluargaan dan gotong royong. Karena itu, pengelolaannya perlu mengedepankan pendekatan manajemen bisnis yang humanis, profesional, dan dekat dengan kebutuhan masyarakat," tutup Junaidi.***