Fasilitas laboratorium juga disiapkan dengan rasio peralatan 1:10. Selain itu, tersedia berbagai perangkat pendukung kreativitas dan pembelajaran modern, seperti kamera fotografi, Smart TV, dan papan digital.

Kolase: Potret kegiatan santri IBS PKMKK Pamekasan sambut Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2026. (Istimewa/doc.dimadura)

Menurut Prof. Achmad Muhlis, penyediaan fasilitas secara proporsional tersebut merupakan bagian dari upaya menghadirkan pendidikan Islam yang berkeadilan. Prinsip itu kemudian dipadukan dengan penguatan karakter melalui nilai-nilai kenabian.

Ia menjelaskan, pendidikan tidak cukup hanya membentuk santri yang memiliki kemampuan intelektual. Pendidikan juga harus membangun kepribadian spiritual, karakter, serta kesadaran terhadap tanggung jawab sosial.

"Ketika seorang guru mengajar dengan amanah, ia sedang menghidupkan nilai kenabian. Ketika seorang santri menulis dengan jujur, ia sedang menghidupkan sifat Siddiq. Ketika seorang pemimpin menggunakan kewenangannya untuk kepentingan masyarakat, ia sedang menghadirkan Amanah," tutur Prof. Muhlis.

"Ketika seorang intelektual menyampaikan ilmu dengan santun dan bertanggung jawab, ia sedang menghadirkan Tabligh. Dan ketika generasi muda mengembangkan teknologi untuk pendidikan, ekonomi, kesehatan, serta kemajuan masyarakat, ia sedang menghidupkan Fatonah," imbuhnya.

Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam itu juga mengaitkan empat sifat kenabian dengan pembangunan bangsa dalam mengisi kemerdekaan.

Siddiq dimaknai sebagai kejujuran yang menjadi dasar pembangunan. Amanah berkaitan dengan tanggung jawab dalam mengelola kekuasaan dan sumber daya untuk kepentingan bersama.

Tabligh diwujudkan melalui penyampaian kebaikan dan komunikasi yang beradab. Sementara Fatonah mendorong kecerdasan, inovasi, penguasaan ilmu pengetahuan, serta teknologi.

Melalui perpaduan fasilitas pendidikan yang setara, pembelajaran berbasis teknologi, serta penanaman nilai kenabian, urainya lebih lanjut, IBS Padepokan Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan menurutnya hendak menegaskan komitmen mencetak generasi santri yang berprestasi, adaptif terhadap perkembangan teknologi, berakhlak mulia, dan memiliki kepedulian terhadap bangsa.

"Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu menjadikan kemerdekaan sebagai ruang luas untuk menghadirkan kemaslahatan. Di sinilah pendidikan Islam memegang posisi yang sangat strategis," pungkasnya.***