3. Dusun Perreng

Berasal dari istilah arèng-rèngen yang berarti suka menggerutu dan berselisih. Nama ini mencerminkan masyarakatnya yang dikenal sering berbeda pendapat dan mudah mengeluh.

“Kadhâng maghârsarè Kampong Perrèng rèya ta' akor sèttong bân sèttonganna, bân lèbur rèng-rèngen, (Kadang masyarakat Perreng ini tidak akur, bahkan sering berselisih)," tambah Ismail.

4. Dusun Jala’oan

Nama ini dihubungkan dengan istilah pacolo’an (berasal dari kata colo’, yang berarti mulut). Pacolo'an berarti suka mengadu domba. Ada yang berpendapat, hal kondisi tersebut lebih menggambarkan kebiasaan masyarakat setempat yang cenderung banyak bicara.

5. Dusun Talaran

Berasal dari istilah alar-laran, yang berarti mengikuti arus. Masyarakat dusun ini digambarkan sebagai orang-orang yang mudah terbawa tren atau kebiasaan yang berkembang di sekitar mereka.


Sejarah lisan ini menjadi bukti bahwa masyarakat Badur memiliki hubungan erat dengan warisan budaya mereka.

Meski belum ditemukan bukti tertulis atau peninggalan konkret, kisah-kisah ini tetap hidup dalam ingatan kolektif warga, menjadi bagian dari identitas mereka yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.***