Tetes Langit di Penghujung Ramadan 2025

Rintik-rintik doa jatuh dari langit menyapu debu yang bersemayam di dada seperti malam yang lirih menyambut fajar menjaga janji-janji yang belum terpenuhi Di penghujung Ramadan, selembar waktu bergetar di angin subuh bertanya pada hati yang sunyi: Sudahkah aku tiba pada keikhlasan? Sejenak, suara tasbih merambat ke langit menemui takdir yang telah menanti dan ketika azan kemenangan bergema sebuah harapan mengalun—tetap suci, tetap rindu

Pukul 13.23 WIB Akhir Ramadan 2025

Langit di atas mihrab membisu angin merayap di sela-sela sajadah menyentuh dahi yang bersujud pada waktu yang semakin pudar Di sudut masjid, seorang lelaki menghitung detik-detik yang tersisa seakan ingin menggenggam Ramadan menyimpannya di dada selamanya Pukul 13.23 WIB, waktu berhenti sejenak sebelum lengking takbir membelah udara dan manusia kembali terlempar ke dunia membawa cahaya atau kembali gelap

Airmata Ramadan 2025

Ramadan mengemas diri dalam senja terakhir meninggalkan jejak-jejak rindu di ubun-ubun tangis jatuh di antara tasbih yang berputar mengiringi perjalanan menuju Syawal Airmata ini bukan duka melainkan cinta yang enggan berpisah seperti bulan yang berpaling perlahan namun cahayanya tetap tinggal di hati Wahai Ramadan, di pelukanmu aku mengenal rindu dan di kepergianmu aku mengerti betapa fana dunia tanpa cahayaMu