KOSAKATA, DIMADURA – Pernahkah Anda merasa mendadak ingin berak, tergesa-gesa menahan isi perut yang memberontak akibat salah makan sambal atau jajan sembarangan di pinggir jalan? Dalam bahasa Madura, gejala sakral ini dikenal dengan satu kata yang menghentak kesadaran: moros.

Kata ini bukan sekadar onomatope dari suara usus yang memberontak atau dentuman kentut yang memberitahu dunia akan datangnya badai perut.

Moros adalah pengalaman eksistensial, semacam refleksi akan batas-batas tubuh manusia yang tak kuasa menolak takdir biologis. Sebuah kata yang lahir dari kenyataan paling telanjang:

bahwa kita, betapapun sombongnya, masih bisa dilumpuhkan oleh sebungkus nasi jagung plus sayur asam basi.

Serumpun dengannya adalah cer-cer — yakni beser atau wasir, sering kencing karena terlalu banyak minum saat udara dingin menusuk.

Di balik bunyi-bunyian lucu itu, ada fragmen kejujuran tubuh yang tak bisa dimanipulasi. Tubuh punya cara sendiri untuk mengumumkan bahwa ia punya agenda harian yang tak bisa dinegosiasi dengan Google Calendar.

Berikut bagian yang telah diedit agar sesuai dengan makna konotatif moros sebagai sesuatu yang terlalu lancar, keseringan, atau boros secara natural dan tidak disengaja.

Namun moros dalam hal interaksi sosial tidak berhenti di urusan perut. Dalam pergaulan masyarakat Madura, moros sering digunakan sebagai metafora bagi kebiasaan yang terlalu lancar, terlalu sering, atau terlalu boros tanpa niat sadar melainkan karena tabiat.

Misalnya, seseorang yang terlalu sering bicara, terlalu gampang membelanjakan uang, atau terlalu cepat menyetujui sesuatu tanpa pikir panjang, bisa digelari “se moros”—yakni orang yang terlalu mudah “mengeluarkan” apa saja, entah itu isi perut, isi dompet, atau isi pikiran.

Dalam makna yang lebih dalam, moros adalah semacam tanda bahwa seseorang tidak punya ‘katup penahan’ dalam hidup. Ia mengalami segala sesuatu tanpa jeda, tanpa kendali.