Sejarah Pangantan Jhârân
Sejarah panjang tradisi ini menunjukkan dinamika budaya Madura. Sebelum jhârân menjadi pilihan utama, masyarakat Batang-batang mengenal Pangantan Tandhu, prosesi mempelai yang diarak dengan tandu. Suasana meriah tetap tercipta, tetapi penggunaan kuda akhirnya lebih populer karena dianggap lebih megah dan prestisius.
Menurut salah seorang sesepuh Desa Totosan, Pak Mohayu, demikian akrab dipanggil, tradisi ini sudah lama menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
“Pangantan jhârân biasanya diarak dari rumah yang mengadakan hajatan pernikahan di bawah terop, lalu keliling kampung. Dulu ada juga Pangantan Tandhu, hampir sama, bahkan terkadang diarak ke asta atau pasarean leluhur. Tradisi ini sampai sekarang masih lestari. Orang sini menyebutnya jhârân kenca’, biasanya diiringi musik saronen,†tuturnya.
Bagi warga Totosan, kehadiran jhârân kènca’ (kuda menari) bukan sekadar tontonan, melainkan juga penghormatan kepada leluhur. Di titik tertentu, arak-arakan bisa berhenti di makam untuk meminta doa restu.
Itulah yang membuat Pangantan Jhârân terasa penuh makna, menjembatani dunia yang tampak dengan dunia yang tak kasatmata.
Kemeriahan, Saweran, dan Perjalanan Pangantan Jhârân
Suasana makin hidup ketika jhârân kenca’ (kuda-kuda terlatih) mulai menari mengikuti irama musik. Lenggak-lenggok kepala, hentakan kaki, hingga liukan tubuhnya membuat kerumunan bersorak kagum.
Anak-anak bersorak riang, ibu-ibu bertepuk tangan, sementara bapak-bapak tak segan melemparkan uang saweran ke arah pengantin. Saweran yang menjadi simbol suka cita sekaligus ungkapan syukur.
Menurut Sutiha, warga Dusun Ares Tengah, prosesi ini bahkan bisa berlangsung hingga ke rumah kerabat lain.
“Setelah beranjak keluar dari halaman rumah, sejumlah pangantan jhârân itu diantar menggunakan mobil pikap menuju rumah kakak orang tua pengantin di Nyabakan Timur. Di sana atraksinya kembali digelar,†katanya.

