"Sorenya, kuda-kuda itu diangkut pulang dengan pikap, sementara para mempelai naik mobil. Namun, di pertengahan jalan antara Nyabakan Timur dan Totosan, para mempelai turun lagi dari mobil dan kembali diarak dengan pangantan jhârân sampai ke rumah semula," imbuhnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, baik di rumah mempelai maupun di rumah kerabat, pengantin dikalungi uang kertas sebelum disawer. Nilainya bervariasi. Anak-anak kecil biasanya dikalungi Rp5 ribu atau Rp10 ribu, sedangkan pengantin remaja dan dewasa bisa mencapai Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.

Kalungan ini menjadi pemantik agar hadirin semangat menyawer lebih banyak. Semakin banyak uang berhamburan, semakin meriah pula suasana.

Tak hanya hiburan, Pangantan Jhârân juga prestise. Biaya sewa kuda yang bisa mencapai Rp3 juta per pasang per hari tidak mengurangi minat keluarga untuk menggelarnya.

Bagi warga setempat, hajatan baru dianggap sukses bila prosesi ini berlangsung megah, mengikat kebersamaan, dan meninggalkan kesan mendalam di hati setiap orang yang hadir.***