SASTRA, DIMADURA—Puisi Rajâ Atè karya Liwail Amri, anggota Polres Sampang, ini dapat dibaca sebagai doa sunyi di penghujung tahun.

Ditulis pada 24 Desember 2025, puisi ini seperti berdiri tepat di ambang pergantian waktu, saat manusia lazim menoleh ke belakang; menimbang luka dan capaian, sekaligus menata harapan untuk tahun yang akan datang.

Larik pembuka “Taon ampon para' ngallèya” (tahun hampir saja berganti), tak ubahnya penanda di kalender yang mengisyaratkan pesan reflektif bahwa perubahan waktu tidak selalu sejalan dengan perubahan batin.

"Gelap tidak serta-merta menjadi terang hanya karena angka tahun berganti."

Di titik itu, Amry mengajak pembaca untuk tidak terjebak pada euforia pergantian tahun, melainkan menjadikannya momentum muhasabah dengan menggoncang kemalasan, merontokkan ego, demi hati yang senantiasa bersih.

Amry, sapaan akrab Liwail Amri, menengok kembali gerak hati dan segala hal, sebelum melangkah lebih jauh menyambut tahun 2026.

"Tetap tenang, sabar, dan mawas diri, di tengah ketidakpastian hidup yang akan terus berlanjut. Sebab di sanalah, menurut iman dan kearifan lokal, Tuhan kelak meninggikan derajat manusia."

Rajâ Atè adalah cermin refleksi akhir 2025, bahwa yang perlu dibawa ke 2026 bukan hanya harapan, tetapi juga kebersihan hati dan kebesaran jiwa.


Rajâ Atè

— Angghidhán: Liwail Amri, anggota Polres Sampang

Taon ampon para' ngallèya Petteng ta' kèra dhâddhi tèra'na Sengka ḍâlem abâ' dhuli ghujur, onḍhu pakajâ Mara ombâ' narjhâ ngancor bâto bân karang