BUDAYA, DIMADURA – Kerapan sapi sudah lama menjadi denyut budaya agraris masyarakat Madura yang ditandai dengan adanya sapi kerap. Tradisi ini membentuk karakter sosial sekaligus menegaskan hubungan orang Madura dengan hewan yang mereka rawat.
Terkait hal tersebut, jurnalis dimadura.id melakukan wawancara dengan sejarawan dan budayawan Madura,
Tadjul Arifien R, yang masih menyimpan kisah kejayaan
pasangan sapi kerap asal Dungkek, Sumenep, Jawa Timur, Minggu (29/3/2026).
Tadjul mengingat akhir 1950-an, ketika nama
Tee Kam Bing dikenal luas di kalangan masyarakat Sumenep pada khususnya, dan Madura pada umumnya.
Adalah Koko Tee, begitu sapaan akrab
Tee Kam Bing, adalah seorang warga keturunan Tionghoa dengan dua pasang sapi kerapannya yang cukup disegani, bahkan hingga melegenda di kalangan para pecinta sapi karapan.
"Di akhir tahun 1950 sd awal 1960 an, seorang WNI Cina bernama
Tee Kam Bing di Dungkek. Beliau adalah tokoh masyarakat terpandang waktu itu, dan mempunyai dua pasang kerapan sapi dengan nama Sè Indrajit dan Sè Rokèt," ungkapnya, memulai kisah.
Pasangan sapi itu menjadi kebanggaan masyarakat Dungkek. Sapi yang dinamai Sè Indrajit dan Sè Rokèt selalu pulang sebagai juara dalam Kerapan Gubeng.
“Keduanya adalah
pasangan sapi yang setiap tahun pada Kerapan Gubeng tidak pernah kalah, selalu menyandang pemenang nomor satu dan dua,†katanya
Bulu keemasan dan coklat kehitaman adalah ciri yang membuat keduanya mudah dikenali. "Sè Indrajit dan Sè Rokèt merupakan sapi yang tampak gagah, anggun serta elegan, berbulu kuning keemasan untuk Sè Indrajit, sementara coklat kehitaman bagi Sè Rokèt. Pahanya tampak mulus tanpa goresan bekas luka, atau kata orang Madura, rèkèngan," urainya menggambarkan.
Tidak seperti yang dipraktekkan sejak beberapa tahun terakhir, kerapan pada masa itu berlangsung tertib tanpa penyiksaan.
"Kedua pasang sapi hanya didesah oleh pelepah daun kelapa yg dibelah dua sehingga berbunyi plak koplak koplak, dan yang satunya cukup dengan digelitik ekornya. Larinya sangat pesat, jarak 110 meter hanya ditempuh dalam hitungan detik, sekitar 11 hingga 15 detik. Luar biasa," ucapnya.
Ritme saronen dan sorakan penonton membentuk suasana yang khas. Dari situlah kerapan sapi menegaskan kedudukannya sebagai tradisi yang menghibur, dimana di sisi lain juga memuat nilai prestise sosial.
Sebelum kompetisi dimulai, sapi terlebih dahulu diukur tinggi punuknya, lalu diarak keliling lapangan dengan iringan saronen. Para to-ghuto menari dengan langkah tegas untuk membuka perlombaan.
"Kala itu, sapi yang akan di-kerrap (dipacu dalam lomba) di Tingkat Kabupaten, diukur dahulu, dengan ketinggian 120 cm dari tanah sampai dengan belakang punuk sapi. Sebelum memasuki acara kerrap, para sapi diarak dahulu keliling lapangan, iring-iringan saronen dan tari yang gagah perkasa dari to-ghuto, yang bertindak sebagai panglèma dengan kidungan yang menantang (atattalo; Bahasa Madura)," jelas Tadjul.
Memasuki 1963, kabar duka datang.
Tee Kam Bing meninggal dunia. "Semua tidak akan kekal, sekitar tahun 1963 sang induk semang
Tee Kam Bing meninggal dunia akibat minum minuman oplosan," katanya.
Namun demikian, warga Dungkek tetaplah ikut berbelasungkawa, begitu pula dua pasang sapi kesayangannya.
"Konon, kedua pasang sapinya juga ikut bersedih, meneteskan air mata dan menguak sepanjang malam. Setelahnya, kedua
pasangan sapi tersebut hilang beritanya, dan tak tentu rimbanya," pungkas
Tadjul Arifien R.
Sejak saat itu, Sè Indrajit dan Sè Rokèt hanya tersisa dalam ingatan orang-orang yang pernah menyaksikan mereka.
Kisah yang disampaikan Tadjul menyisakan romansa masa lalu. Cerita itu menunjukkan bagaimana seekor sapi dapat menjadi simbol kebanggaan sekaligus jejak hubungan hangat antara manusia dan kebudayaannya.
Hingga kini, nama
pasangan sapi kerap Sè Indrajit dan Sè Rokèt masih disebut ketika orang Dungkek mengenang masa kejayaan kerapan sapi.
NB: Tadjul Arifien R. adalah salah satu saksi hidup terkenalnya pasangan sapi kerap milik Tee Kam Bing, Sè Indrajit dan Sè Rokèt.