"Kualitas sangat dipengaruhi kondisi cuaca. Sampai saat ini cuaca masih cukup mendukung pertumbuhan tembakau sehingga kami berharap kualitas hasil panen tetap baik," katanya.

Selain faktor cuaca, ia menilai kedisiplinan petani dalam menerapkan teknik budidaya, terutama saat panen, juga menjadi penentu nilai jual tembakau.

Ramli mengimbau petani tidak memanen tanaman sebelum mencapai tingkat kematangan yang ideal.

Menurutnya, panen yang dilakukan terlalu dini berpotensi menurunkan kualitas daun sehingga berdampak pada harga jual. Bahkan, kondisi tersebut dapat memengaruhi citra tembakau Madura di mata industri.

"Kalau dipanen sebelum waktunya, kualitasnya akan turun. Gudang atau pabrikan tentu juga akan mempertimbangkan kualitas sebelum membeli," ucapnya.

Sementara itu, seorang petani asal Desa Ellak Laok, Kecamatan Lenteng, Ahmad Qusyairi, menilai keuntungan yang diperoleh petani selama ini masih relatif kecil.

Ia mengatakan hasil penjualan tembakau kerap hanya mampu menutup biaya produksi, bahkan tidak jarang petani mengalami kerugian.

Menurut Ahmad, keberadaan TIHT belum sepenuhnya menjamin kesejahteraan petani apabila harga pembelian dari perusahaan tetap rendah.

Karena itu, ia berharap pemerintah daerah dapat menjembatani komunikasi dengan pihak gudang maupun pabrikan agar harga pembelian tahun ini lebih berpihak kepada petani.

"Kami berharap harga tembakau tahun ini lebih baik sehingga petani benar-benar merasakan keuntungan. Kalau harganya rendah lagi, bukan tidak mungkin banyak petani yang enggan menanam tembakau pada musim berikutnya," harap Ramli. ***