Siswi yang punya hobi main musik di gadget itu menuturkan, persiapan dilakukan secara intensif untuk menguasai teks sekaligus membangun penghayatan ketika tampil di hadapan ratusan orang.

“Latihannya, ada sekitar sebelas hari,” akunya.

Sebelas hari itu berujung pada panggung yang cukup besar bagi seorang anak seusianya. Ia tampil dalam sebuah agenda kenegaraan di lingkungan Pemkab Sumenep, pada momentum ketika Indonesia memperingati 81 tahun kemerdekaannya.

Setelah penampilannya, rangkaian pra-upacara berlanjut dengan tari kemerdekaan. Para penari tampil dengan busana bernuansa tradisional, diiringi gerakan yang dinamis.

Di lapangan yang sama, pasukan TNI dan Polri melakukan baris-berbaris. Derap langkah dan formasi pasukan memberi perubahan suasana dari pertunjukan seni menuju prosesi upacara kenegaraan.

Keragaman juga tampak dari pakaian yang dikenakan sejumlah pejabat dan undangan.

Mereka hadir dengan busana adat Nusantara, antara lain kebaya dan kain tradisional, busana bernuansa Jawa-Madura, serta berbagai aksesori dan penutup kepala khas pakaian tradisional.

Halaman Pemkab Sumenep pagi itu seperti mempertemukan sejumlah wajah Indonesia dalam satu ruang: anak sekolah dengan puisinya, penari dengan gerak tradisional, pasukan dengan seragam dan disiplin barisannya, serta para pejabat dengan pakaian adat.

Usai rangkaian pra-upacara, prosesi utama peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dimulai.

Ketua DPRD Sumenep H. Zainal Arifin membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Suasana halaman Pemkab Sumenep berubah khidmat ketika teks yang dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945 itu kembali dikumandangkan.