Identitas visual yang kuat dapat membantu konsumen mengenali produk, sedangkan kemasan dan strategi merek yang tepat mendukung upaya pemasaran.

Untuk memperluas pendampingan, DKUPP Sumenep memanfaatkan jejaring kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di daerah. 

Pelaku usaha yang membutuhkan bantuan pengembangan merek atau desain produk dapat dihubungkan dengan lembaga yang memiliki keahlian sesuai kebutuhan.

Ramli mencontohkan, perajin yang ingin membangun kekhasan batiknya dapat berkonsultasi untuk mengembangkan identitas produk, mulai dari logo hingga konsep merek.

“Kalau ada UMKM mau bikin branding, mau bikin logo, kita tinggal mengkoneksikan. Saya punya usaha batik, ingin ada kekhasan, kita fasilitasi kepada lembaga-lembaga khususnya perguruan tinggi yang sudah bermitra dengan kami,” jelasnya.

Ramli menegaskan, fasilitasi tersebut diberikan tanpa biaya. Pemerintah daerah berharap kemudahan itu dapat dimanfaatkan masyarakat yang memiliki minat mengembangkan usaha batik, termasuk pelaku usaha berskala kecil yang memiliki keterbatasan sumber daya untuk membangun merek secara mandiri.

Pendampingan tersebut juga membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan produk dengan identitas yang lebih terarah. Namun, keberhasilan pengembangan usaha tetap membutuhkan konsistensi dalam menjaga kualitas, memahami kebutuhan konsumen, serta membangun jaringan pemasaran.

Melalui layanan tersebut, Ramli mendorong agar usaha batik lokal tidak hanya bertumpu pada keterampilan produksi, tetapi juga ditopang legalitas, identitas merek, dan kesiapan menghadapi pasar yang lebih luas.

Bagi masyarakat yang ingin merintis usaha batik, dukungan itu menjadi kesempatan untuk memperoleh arahan sejak awal. 

Sementara bagi perajin yang telah berproduksi, pendampingan dapat dimanfaatkan untuk memperkuat karakter produk dan meningkatkan profesionalitas pengelolaan usaha. ***