SASTRA, DIMADURA – Sebelum mengarungi laut penghayatan Caknun Emha Ainun Nadjib dalam puisi-puisinya tentang puasa dan idulfitri, mari kita mulai pelayaran ini dengan tadarus puisi pengantar berikut.
KALAU
Kalau lampumu tak bersumbu dan tak berminyak, jangan bayangkan api.
Kalau gelasmu retak, jangan mimpi tuangkan minuman.
Kalau mentalmu rapuh, jangan rindukan rasukan tenaga dalam.
Kalau kaca jiwamu masih kumuh oleh kotoran-kotoran dunia, jangan minta cahaya akan memancar dengan jernih atasmu.
Jadi, bertapalah dengan puasamu. Bersunyilah dengan i'tikafmu. Membeninglah dengan ruku' dan sujudmu.
Puasa mengantarkanmu menjauh dari kefanaan dunia, sehingga engkau mendekat ke alam spiritualitas.
Demikian kata Emha, sebagaimana dikutip dimadura dari laman resmi Caknun, Senin 8 April 2024. Bagi Caknun, berpuasa adalah perbuatan baik yang sangat tinggi dan khusus nilainya, sehingga Tuhan memfirmankan, "puasamu untuk-Ku". Karena kebaikan lebih mulia dibanding kegembiraan, maka menurutnya lebih rasional jika kita menyebut bulan puasa dengan Hari Raya Ramadlan. "Tidak berarti salah menyebut Hari Raya Idul Fitri, tetapi rasanya kurang sopan kepada Tuhan kalau yang kita rayakan adalah kebebasan untuk makan-makan. Sebab la tidak pernah menyatakan: makanmu untuk-Ku," jelas MH Ainun Nadjib lebih gamblang. Puasa, lanjut Caknun, adalah sesungguhnya naluri dan akal sehat. Puasa merupakan muatan terpenting dari kehidupan.Bukankah sebagai makhluk puasa, engkau senantiasa mengontrol perut dengan pagar yang bernama rasa kekenyangan?—tatkala nafsu makanmu mengalami kebutaan terhadap kapasitas makanan yang secara alamiah engkau butuhkan?Puasa membimbing pelakunya agar tidak mengumpulkan anugerah kesejahteraan Allah di gudang pribadi atau kelompoknya sendiri, melainkan mendistribusikan ke semua orang. Metodenya bukan dengan mengambil sebanyak-banyaknya lantas sebagian disumbangkan, melainkan dengan menciptakan tatanan agar perolehan kesejahteraan sesama manusia bisa berimbang. Demikian sekelumit dawuh Caknun tentang puasa. Selanjutnya mari kita tadarus panjang puisi Caknun lainnya tentang puasa dan idulfitri.
Puisi Puasa Caknun
1. Puasa Baginda
Aku duduk di beranda rumah selepas berbuka
Ketika mendadak muncul seorang tua renta
Yang kalau kuperhatikan pancaran wajahnya
Jangan-jangan beliau inilah
