Logo dimadura.idAsal-usul Suku Madura merupakan bagian penting dari sejarah dan budaya Indonesia yang kaya. Dengan keunikan budaya dan sejarahnya, suku ini telah berkontribusi besar terhadap kekayaan budaya nasional.

Tulisan ini mencoba merangkum berbagai temuan arkeologi dan catatan sejarah yang mengungkapkan perjalanan panjang suku Madura dari zaman megalitik hingga era modern.

Melalui kajian ilmiah yang mendalam, kami berharap dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang asal-usul dan perkembangan suku Madura.


Ghardu

   

Asal Usul Suku Madura

» Oleh: Tadjul Arifien R - Budayawan Sumenep [caption id="attachment_5552" align="aligncenter" width="1280"]Penelitian artefak berusia 11 ribu tahun sebelum masehi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, di Dusun Bantilan Desa Da'andung Kecamatan Kangayan Pulau Kangean, Sumenep, Madura, Senin tanggal 20 April 2020. (Foto: Moh. Hairil Anwar) Penelitian artefak berusia 4000 tahun sebelum masehi oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, di Dusun Bantilan Desa Da'andung Kecamatan Kangayan Pulau Kangean, Sumenep, Madura, Senin tanggal 20 April 2020. (Foto: Moh. Hairil Anwar)[/caption]

Megalitikum yang sudah diteliti oleh Balai Arkeologi Pusat & Balar Yogyakarta, untuk Jawa Timur hanya ada di Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi, Pancor, Kepulauan Sepudi (Sumenep Madura). Adanya Batu Gong atau Batu Kennong ini menjadi bukti bahwa di Kepulauan Sepudi, Sumenep, sudah ada kehidupan 2000 tahun sebelum Masehi (Prof Mien A Rifai; 2017).

Megalitikum, penelitian kedua oleh Balai Arkeologi Yogyakarta, bahwa di Gua Arca, Kampung Koladi Desa Da'andung, Pulau Kangean, diketemukannya beberapa fosil, biota dll. yang berusia ribuan tahun, sebagai bukti bahwa di Kangean Sumenep Madura ada kehidupan pada 4000 tahun sebelum Masehi (Afifah; 2019).

Pada awalnya, Pulau Jawa dan Madura adalah satu, tapi pecah dan terpisah dengan adanya pralaya besar (gempa/tsunami) yang menerpa Nusantara, dan pecah atau berpisahnya Pulau Jawa dan Madura pada tahun 124 Saka atau tahun 202 Masehi dengan Candra Sengkala Samudra Manggung Bhumi (Kakawin Nagara Kertaghama; 1357).

Datangnya Bendoro Gung, nama asli Dyah Cendrawati ke pulau Madura pada tahun 929; putri Prabu Sanghyang Tunggal (Raja Gilingwesi/Medang Kemulan) berputra Joko Segoro tanpa suami sah, berlabuh di Gunung Geger dan bermukim di Desa Nèpa Sampang. (Zainalfattah, 1951).

Pada abad ke-X, datanglah para nelayan orang Sulawesi & Kalimantan menempati pulau kosong tersebut, sebagai bukti sampai sekarang di Sumenep ada Suku Wajo (Bajo), Bugis dan Mandar dengan budaya yang sama dengan orang Madura tapi bahasanya campuran bahasa Madura (Zainalfattah, 1951 & Drs Abdurrahman, 1971).

Pada tahun 1177 saka atau 1255 Masehi, Raja Songennep (Madura) pertama adalah Nararyya Kulupkuda, sepupu Prabu Wisnuwardana, Raja Singosari, yang tentu membawa pasukan dari Singosari (Prasasti Mulamalurung, VI-a,b/1293 & Titi Surti Nastiti, 2009).