Tahun 1191 saka atau 1269 Masehi, status kerajaan dihapus oleh Raja Kertanegara, lalu mengangkat Arya Wiraraja sebagai Adipati yang dinohaken ring Songennep atau disingkirkan ke Sumenep karena berseberangan politik dengan Raja Kertanegara (Serat Pararaton 2).
Arya Adikara Wiraraja adalah orang Bali keturunan Sanghyang Pasopati, berputra Dhyang Dwijendra, berputra Mpu Witadharma - berputra Mpu Lampita - berputra Empu Barada - berputra Bahula Candra - berputra Mpu Tantular - berputra Siddhimantra, dan berputra Dahyang Manik Angkeran, selanjutnya pada Wangbang Banyakwide yang dikenal sebagai Arya Wiraraja. (Jro Mangku Pulasari, 2008).
Dengan membawa ratusan pasukan dari Singosari bersama keluarganya. Waktu itu daratan Sumenep Kota ke timur Pabian Mastasek, Marengan, Kalimo'ok, ke selatan Pinggirpapas, masih berupa laut. Terbukti sumber air tanah hingga sekarang masih asin, dan dari Kolor ke selatan Gunggung, Nembakor hingga ke Saroka ke timur masih laut, dan pada abad ke XIV mulai mengeras, (DR. Adi Sukadana, Antropolog).
Makanya Songennep asal kata Asong Ngennep, atau cekungan laut yang mengendap (Prof. Dr. MM Sukarto Kartoatmojo).
Pusat pemerintahan masih ada di tempat yang tinggi seperti di Batuputih, Tanjung, Banasare, Keles Baragung, Bukanbu, Lapataman, Gapura dan Parsanga (Drs Abdurrahman, 1971).
Pada abad XVI, keraton baru ada di Kota tapi di tempat yang tinggi, yakni Karangduak. Sedangkan di selatannya masih pantai laut dengan nama Karangraba, Kolor, Ba'andhing, Mastasek terus ke timur selatan, dan tidak bisa dihuni oleh manusia (Drs Abdurrahman; 1971). Terbukti sampai sekarang, di perumahan BSA selatan ke timur, air tanahnya masih payau.
Tahun 1559 M, pemerintahan dinasti Arya Wiraraja terputus diganti oleh putra ke-6 dari Raden Patah Sultan Alam Akbar al Fatah (Raja Demak Bintoro), yang bernama Raden Wangkowo, Tumengggung Kanduruan Pangeran Notokusumo Negoro, dengan membawa ribuan bala tentara dari Japan (wilayah Majapahit, Zainalfattah 1951 & Drs Abdurrahman, 1971).
Cina masuk Sumenep tahun 1740, pasca Geger Pacinan di Batavia, mendarat di Dungkek. Dengan bukti adanya Bongpay (kuburan Cina) dan rumah sèkot Pacènan berangka tahun sejaman (Daradjadi, 2013).
Tahun 1750 diganti lagi oleh dinasti Arya Wiraraja, yakni dinasti Bindârâ Saod hingga tahun 1928 Masehi (Werdisastra; 1914, Zainalfattah; 1951, Drs Abdurrahman; 1971, Kartosoedirdjo; 1919). Asal nama Madura adalah lemah duro, tanah berdosa, karena tempat pelarian Bendoro Gung yang hamil tanpa suami (Zainalfattah, 1951 & Drs Abdurrahman, 1971). Bangkalan dan Pamekasan baru ada pemerintahan sejak runtuhnya Majapahit pada tahun 1531 (Zainal Fattah; 1951). Sebagai catatan, mayoritas kyai atau ulama pengasuh Ponpes di Madura adalah Dzurriyah Walisongo, dari trah Al Hasani & Al Husaini (Sunan Ampel, Sunan Kudus & Sunan Giri). Silsilah lengkap ada pada saya. Hanya para beliau banyak yang kurang suka bila disebut keturunan Rasulullah SAW, takut "cangkolang", katanya. Suku Madura sebanyak 14 juta jiwa, yang mukim di Madura sekitar 4 juta jiwa, sisanya merantau (BPS, 2010).
Semua paparan tersebut berdasarkan kajian ilmiah, yang sumbernya tercantum pada setiap paragraf atau alinea. Mator sakalangkong!

