Perjuangan Pemuda menjelang Proklamasi
Dengan menyerahnya Jepang pada tentara Sekutu, pada tanggal 15 Agustus 1945 pukul 20.00 WIB. para pemuda yang dimotori oleh Chairul Saleh mengadakan rapat di Jalan Pegangsaan Timur nomor 17 Jakarta. Dalam pertemuan itu membuahkan hasil yakni:- Mendesak Soekarno dan Moh. Hatta agar memproklamirkan kemerdekaan saat itu juga
- Menunjuk Wikana, Darwis, Subadio untuk menemuhi Soekarno dan Moh. Hatta dan menyampaikan hasil keputusan rapat dengan catatan proklamasi kemerdekaan RI tidak melalui PPKI
- Membagi tugas kepada para mahasiswa, pelajar dan pemuda di Jakarta untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang.
BACA JUGA:
Maka rombongan menuju ke rumah Laksamana Maeda Jl. Imam Bonjol nomor 1, beliau Perwira Angkatan Laut Jepang yang berpihak kepada bangsa Indonesia. Bertempat di ruang makan Laksamana Maeda, mereka mengadakan pertemuan antara anggota PPKI dengan para pemuda, sedangkan Laksamana Maeda tidak ikut campur dan ditinggal dalam kamar tidur lantai dua. Tiga eksponen pemuda yakni Sukarni, Sudiro dan BM Diyah menyaksikan Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan Ach. Subarjo membahas perumusan naskah Proklamasi. Sedangkan para tokoh lain menunggu di serambi rumah Laksamana Maeda. Tanggal 17 Agustus 1945 jam 04.00 Teks Proklamasi telah selesai dirumuskan, kemudian dibaca di depan para tokoh yang ada diluar oleh Ir. Soekarno, kemudian disetujui dan diketik oleh Sayuti Melik. Selanjutnya atas usul Sukarni teks tersebut di tandatangani oleh Soekarno – Hatta atas nama bangsa Indonesia, dan disetujui oleh semua pihak.
Proklamasi Kemerdekaan R.I.
Tanggal 17 Agustus 1945 pada pagi hari, para pemuda yang bermarkas di Jalan Bogor lama berupaya untuk mengatur pelaksanaan penyiaran berita Proklamasi, dalam situasi yang mencekam mereka berupaya untuk menyebar-luaskan pamflet, menggunakan pengeras suara pada mobil-mobil untuk dikerahkan ke segenap penjuru kota Jakarta. Mendengar berita yang menggembirakan maka masyarakat berbondong-bondong mendatangi lapangan Ikada (Monas sekarang) untuk menyaksikan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Pihak Jepang mendengar berita tersebut, lapangan Ikada dijaga ketat oleh tentara Jepang, semua komponen masyarakat tidak diperkenankan mengadakan aktifitas apapun di sana. Selaku pimpinan Barisan Pelopor Sudiro merasa bertanggungjawab dalam pelaksanaannya, dengan cepat melakukan reaksi dengan memberitahukan pada masyarakat secara estafet (dari mulut ke mulut) bahwa Proklamasi akan dilakukan di rumah kediaman Ir. Soekarno Jalan Pegangsaan Timur nomor 56. Selanjutnya Sudiro melaporkan kepada Kepala Keamanan dr. Muwardi, kemudian beliau memerintah-kan Syodan Cho Latief Hendraningrat untuk mengerahkan pasukan PETA agar menjaga ketertiban dan keamanan sekitar rumah Ir. Soekarno. Syodan Cho Arifin Abdurrahman selaku pimpinan pasukan cepat mengaturnya, dan dirinya bersiaga di depan pesawat telepon rumah Ir. Soekarno. Di lain pihak di Asrama Monyet diperintahkan agar pasukan PETA sewaktu-waktu dapat dihubungi oleh Syodan Cho Arifin Abdurrahman, jika ada tentara Jepang mengganggu. Walikota Jakarta Sudiro memerintahkan Mr. Wallop untuk melakukan persiapan pembacaan teks Proklamasi, beliau meminjam pengeras suara kepada Gunawan pemilik toko radio di Jalan Salemba Tengah nomor 24. Lalu menyuruh Suhud menyiapkan tiang bendera untuk mencari bambu di belakang rumah. Karena sangat gembira sehingga Suhud lupa bahwa di depan rumah Ir. Soekarno ada tiang bendera dari pipa besi. " Sedangkan Sang Saka Merah Putih sudah disiapkan oleh Ibu Fatmawati dengan hasil jahitan tangannya sendiri. " [caption id="attachment_5926" align="aligncenter" width="800"]
Bendera Merah Putih, Lambang Sejarah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945 (Foto: Mazdon/doc. dimadura.id)[/caption]
Menjelang pukul 10.00 WIB. hampir semua para tokoh pejuang telah hadir, Ki Hajar Dewantoro, KH. Mas Mansyur, Sam Ratulanglangie, dr. Buntaran Marmoatmojo, Anwar Cokroaminoto, Mr. A.A. Maramis, Mr. Laturharhary, Abikusno Cokrosuyoso, Otto Iskandardinata, Harsono Cokroaminoto, Mr. Sartono, Sayuti Melik, Pandu Kartawiguna, Moh. Tabrani dan A.G. Pringgodigdo, hanya Drs. Moh. Hatta masih belum hadir.
Para pemuda sudah tidak sabar, mereka mendesak dr. Muwardi agar menghubungi Ir. Sukarno agar cepat dilaksanakannya, tapi Ir. Sukarno menolak sebelum Drs. Moh. Hatta hadir untuk mendampinginya. Lima menit sebelum acara dimulai Drs. Moh. Hatta datang dengan berpakaian putih-putih, langsung menuju tempat Ir. Soekarno. Selanjutnya kedua tokoh yang sangat berpengaruh tersebut menuju tempat yang disediakan.
Upacara Proklamasi Kemerdekaan dilaksanakan tanpa protokoler, Latief Hendra-ningrat memberikan aba-aba siap kepada seluruh Barisan Pemuda, semua yang hadir berdiri tegak dengan sikap sempurna, suasana menjadi hangat, tenang dan haru.
Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempat semula, kemudian Ir. Soekarno mendekati mikrofon, dengan suara mantap beliau mengucapkan Teks Proklamasi Kemerdekaan:
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 05 Atas nama bangsa Indonesia Soekarno - HattaSumber:
- Rickles MC, 2008, Sejarah Indonesia Moderen 1200-2008
- Drs Soedjiono, 1985, 40 th Indonesia Merdeka
- Nugroho Notosusanto, 1979, Tentara Peta pada jaman Pendudukan Jepang
- Edhi Purwanto, 1996, Sejarah Nasional
- Setneg, 1995, Risalah Sidang BPUPKI
- dll sbg


