Gubernur Khofifah Enggan Buka Anggaran Vaksinasi Massal di Sumenep
Rencana vaksinasi massal campak rubella di Sumenep disambut positif, tetapi ketidakjelasan anggaran membuat publik bertanya: berapa sebenarnya dana yang digelontorkan pemerintah? Gubernur Khofifah menyebut target 10 ribu anak pada vaksinasi massal campak rubella di Sumenep, namun saat ditanya soal total anggaran, ia memilih lempar jawaban.
EDITORIAL, DIMADURA – Program vaksinasi massal campak rubella yang akan digelar di Kabupaten Sumenep mulai tanggal 25 Agustus 2025 semestinya menjadi momentum penting untuk melindungi anak-anak dari penyakit menular yang mematikan. Namun, di balik rencana mulia tersebut, transparansi anggaran kembali menjadi sorotan.
Saat menjawab pertanyaan wartawan terkait berapa total biaya yang disiapkan untuk vaksinasi massal ini, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tidak memberikan angka jelas. Ia hanya menyinggung soal jumlah target vaksinasi dan dukungan dari pemerintah pusat maupun provinsi.
“Imunisasinya, vaksinnya dari Kementerian Kesehatan, vitamin A-nya dari Pemprov hampir 10.000-an atau sekitar 9.800-an. Jadi ini berseiring sebetulnya,” kata Khofifah saat berkunjung ke RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep, Sabtu (23/8/2025).
“Kalau total anggaran tanyanya ke Pemprov ya, karena ini kan sebetulnya kerja bareng,” tukasnya menambahkan.
Pernyataan yang terkesan menghindar ini menimbulkan tanda tanya. Publik tentu berharap transparansi penuh dalam setiap penggunaan dana, apalagi yang menyangkut program kesehatan massal. Tanpa keterbukaan, kepercayaan masyarakat terhadap program vaksinasi bisa tergerus.
Sementara itu, kondisi di lapangan menunjukkan tantangan serius. Dokter spesialis anak RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep, dr. Anita Febriana, Sp.A, menyebut saat ini ada delapan anak yang tengah dirawat akibat campak.
“Alhamdulillah kondisinya semua stabil, dan hari ini rencana dua anak akan dipulangkan,” ungkapnya.
Data tersebut menambah gambaran bahwa kasus campak di Sumenep masih nyata dan perlu ditangani secara serius.
Fakta lain juga mencemaskan: dari 17 anak yang meninggal akibat campak di Sumenep, 16 sama sekali tidak pernah diimunisasi dan satu anak hanya menerima imunisasi tidak lengkap.
Rendahnya cakupan imunisasi menjadi masalah mendasar yang harus dibenahi, dan vaksinasi massal seharusnya menjadi solusi untuk meningkatkan kesadaran sekaligus perlindungan masyarakat.
Namun, transparansi tetap kunci. Apalagi masyarakat perlu memahami bahwa ada dua jenis vaksin berbeda. Vaksin MR (Measles-Rubella) yang digunakan dalam program pemerintah bersifat gratis dan tersedia di puskesmas maupun posyandu.
Sementara vaksin MMR (Measles-Mumps-Rubella), yang juga mencakup perlindungan terhadap gondongan, hanya tersedia di rumah sakit atau klinik swasta dengan biaya berkisar Rp400.000 hingga Rp955.000.
Di satu sisi, vaksinasi massal campak rubella adalah langkah strategis dan harus didukung. Tetapi tanpa transparansi anggaran, program ini berisiko dipandang sekadar seremonial.
Publik berhak tahu, berapa sebenarnya dana yang digelontorkan, dan bagaimana penggunaannya benar-benar menyentuh kebutuhan kesehatan masyarakat.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





