dimadura
Beranda Pangkèng Sastra Sajak MH Efendi

Sajak MH Efendi

ILUSTRASI: Sosok MH Efendi dalam visual artistik bernuansa reflektif yang merepresentasikan sajak tentang perjuangan hidup, kelelahan batin, dan keteguhan manusia menjalani takdir. (Dok. dimadura.id)

Aku adalah debu yang berjalan di atas waktu,
menyebut namaku sendiri dengan suara yang kadang tak kukenal.
Di cermin pagi, wajahku tampak utuh,
tapi di dada, ada retak-retak halus
yang tak pernah sempat kuceritakan pada siapa pun.

Hidup ini tidak pernah benar-benar memelukku,
ia hanya menggandeng tanganku sebentar,
lalu melepaskannya di tikungan sunyi
tanpa aba-aba.

Aku belajar tersenyum
seperti langit belajar menyembunyikan badai.
Orang-orang melihat terang di wajahku,
tapi tak ada yang tahu
betapa gelapnya malam yang kusimpan
di balik mata.

Aku pernah menjadi anak kecil
yang percaya semua pintu akan terbuka
asal diketuk dengan doa.
Namun kini aku tahu,
tak semua pintu diciptakan untukku,
dan tak semua doa
mendapat alamat yang jelas.

Kadang aku bertanya pada kehidupan:
mengapa langkahku selalu terdengar lebih berat
dibanding yang lain?
Mengapa bahuku terasa penuh
meski tanganku kosong?

Kehidupan tak menjawab.
Ia hanya menaruh luka di pangkuanku
dan berkata pelan,
“Rawatlah ini,
agar kau tahu rasanya menjadi manusia.”

Aku mencintai hidup,
meski ia sering tak mencintaiku dengan cara yang sama.
Aku tetap menyalakan harapan
meski angin berkali-kali
memadamkannya.

Sebab di balik semua kehilangan,
aku menemukan diriku yang tak runtuh saat dihantam sepi,
yang tak pergi saat dikhianati sunyi.

Dan jika suatu hari aku benar-benar lelah,
biarlah tangisku jatuh tanpa suara,
seperti hujan yang tak meminta disaksikan.
Biarlah dunia tak tahu
betapa kerasnya aku berjuang
hanya untuk tetap berdiri.

Aku adalah aku!

Seorang yang tak sempurna,
yang berjalan tertatih di antara takdir dan mimpi,
yang belajar setiap hari
bahwa hidup bukan tentang menang,
melainkan tentang bertahan
tanpa kehilangan hati.

Dan bila kelak namaku hilang dari ingatan manusia,
semoga jejak air mataku
masih tinggal di tanah,
menjadi saksi
bahwa aku pernah sungguh-sungguh
mencintai kehidupan, meski ia sering membuatku patah.


Sumenep, 2 Maret 2026

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan