dimadura
Beranda Pangkèng Sastra Puisi Puisi Sugat Ibnu Gazali

Puisi Puisi Sugat Ibnu Gazali

Penyair Sumenep, Sugat Ibnu Gazali, Sang Pegulat Puisi (Foto: Doc. dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1SASTRA, DIMADURA – Sugat Ibnu Gazali lahir di Sumenep, Madura. Sehari-hari aktif berkesenian dan mengkultuskan dirinya menjadi “Pegulat Puisi”.

Hingga kini, ia terus berkarya sekaligus membina dua komunitas yang ia dirikan, yakni Kompolan Kesenian Lenteng (Kalenteng) dan Komunitas Sauh Langit.

Selain itu, ia juga aktif membina berbagai sanggar dan kelompok teater di daerahnya, seperti Teater Parokon, Sanggar Lasemi, dan Mayang Siwalan.

Di luar aktivitas kesenian pertunjukan, membatik menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Ia mengembangkan galeri Kombung Batik di kediamannya dengan motif khas bernuansa abstrak.

Karya-karyanya telah dimuat dalam berbagai antologi puisi, di antaranya Dzikir Ilalang, Lubang Kata, Sajak Awal Desember, serta Majalah Jokotole Balai Bahasa Jawa Timur.

Sugat Ibnu Gazali merupakan penggagas antologi puisi Celoteh di Bawah Bendera bersama Rumah Seni Asnur, Sofyan RH Zaid.

Puisi Puisi Sugat Ibnu Gazali

 

TAPA DHANGDHANG

Letakkan segala keresahanmu pada tajin sanapora. Tajin berwarna kuning, biru, putih, hitam, dan merah.

Sebelum doa diusung ke tapah dhangdhang, jalan menyilang tempat pertemuan segala pandang.

Kuning tajinnya adalah kuning matahari timur.
Biru tajinnya biru lautan.
Hitam tajinnya hitam mendung selatan.
Merah tajinnya merah matahari barat.
Putih tajinnya putih pinta dari segala doa.
Kugaris segala ketakutan pada simpang empat.
Kewaswasan mari kita lipat.

Pada daun pisang tempat sesajen menampung segala kutuk dan cacat.
Akhirnya segala praduga mari jadikan tumbal.
pasung segala pengharapan dengan ritus doa, tanpa membunuh Tuhan di akhir rencana.

2026

ARYA KUDA PANOLE

 

Tanah garam pulau Madura

sepuh baja lahirnya raja-raja

seorang lelaki kesatria dengan mata setajam gendewa

lahir penuh rahasia menyibak hutan belantara

Di pinggangnya terselip pecut pusaka—mengerang namanya

Mengental madu darah Madura

hempaskan musuh di tengah samudra

Kuda panole menghentak bumi,

Pecah lautan

hantam perahu Dempo Awang

 

Langit mendung

mega remeng menyelinap menusuk awan hitam

setengah terang, setengah perang.

Ia tak banyak bicara

Karena suara hanya sebatas nyala pada gulita

 

Pecut menjilat lautan, menebas langit tanpa bebintang

Yang khianat segera tumbang

Musuh lenyap tanpa kilatan pedang

 

Ringkik kuda panole melaju secepat kilat

Mengukir jejak

Menjadi prasasti di dada Madura.

 

Sugat, 2018,2026

 

BALADA CINTA AYU RASMANA DAN BINDARA SAUD

 

Air sungai bergelayut dari arah pintu matahari

Menggaris lereng-lereng bebukitan

Hantarkan anak laki-laki pada lembung tempat air berporos melingkar lan-bulanan

Kepalanya menunduk tawaduk didekap air wuduk

Matanya teduh diguyur dingin subuh

 

Anak laki-laki itu berlari mengembala ingatan, membaca huruf-huruf suci pada riak sungai hakiki

meloncat-acebbung-menyelami kedalaman cinta pada yang maha Agung

 

Bindara Saud

Santri kiai Faqih alim fiqih

Penyabit rumput dan pengembala sapi

Harum namanya menyemerbak sampai istana

Raden Ayu Rasmana tak kuasa sembunyikan debar hatinya

 

Di balik tirai sutra dan tembok-tembok keraton

Runtuhlah hati seorang putri

Batinnya tak henti menyebut namanya

Seorang Saud berpakaian lusuh menjadi ekolalia

dalam benak hatinya

Pintu istana terbuka lebar

bergetar sampaikan berita yang baru mengakar bahwa cinta tidak pernah memandang harta dan tahta

 

Cinta memiliki bayang-bayang panjang

Raden Ayu tak kuasa menolak titah batin suci

Dua hati satu jiwa

nyatakan sumpah cinta: Pitungkas mujarrab doa-doa pada semesta

 

Mulai hari ini panggil ia Adipati Raden Tirtonegoro Muhammad Saud.

 

Kuncup bunga-bunga melati, cempaka, dan bunga kenanga bermekaran menyemerbak penuhi taman istana

di sela harum doa-doa

Patih Purwo Negoro menajamkan ambisinya.

Ia ingin merebut Raden Ayu Rasmana,

menjarah bukan hanya cinta

melainkan harga diri

berebut cinta dan tahta.

 

Tombak dan pedang bersahutan memecah keheningan

Patih Purwo Negoro ciptakan badai di tengah cahaya bulan bemadu

 

Bindara Saod berdiri

Perintahkan dua kesatria setia:

Patih Saunggaling dan Patih Sangga Taruno, habisi Purwo Negoro!

 

Di bawah rembulan yang pucat:

logam bertemu logam,

doa bertemu dendam,

Berkilat pecahkan hening malam

sabetan pedang membelah sejarah,

memahat canggah pendopo Asta Tinggi

tanah mencium amis darah

Garis pedang nasib tak dapat ditawar

Purwo Negoro rebah ke pangkuan bumi

 

Istana kembali lahirkan sejarah

Antara cinta dan amis darah

Rakyat biasa pemegang tahta

Membuka gerbang kuasa

Dengan cinta menjadi genta pada setiap kemurnian jiwa

 

Sugat, 8 januari 2020-2026

 

LOMAMPA JOKOTOLE DHALEM TAREKA

 

Dikisahkan

Bermula di Payudan

Asmara tumbuh bergeliat dalam mimpi

Perempuan cantik putri seorang raja di tanah Madura bergerilya dalam cerita

 

Di hutan belantara seorang anak laki-laki dilahirkan karena takut menjadi petaka

dengan tarikan nafas doa ibunya

peluhnya ngarai menyimpan segala harapan

Matanya berkaca-kaca pantulkan

cahaya ketakutan dari telunjuk Ayahanda

 

Ia bukan tak dicinta

Diasingkan karena bentuk cinta menepis segala praduga dalam prahara asmara

 

Hutan belantara

Merawatnya tanpa siksa

Karena ia tahu setiap anak lahir dari rahim surga penuh cinta

 

Seekor kerbau putih bersama lonceng kayu akasia melihat matanya semerah biji saga

menyala di antara semak-semak balsa dan cemara

Menyusuinya lenyapkan segala derita dan dahaga

 

Panggil anak ini jokotole

Anak rimba yang akan menjadi jawara di tanah Madura.

 

Teriakan Empu Kelleng memecah rimbun hutan belantara

 

Di dadanya aku temukan ketenangan samudra. Jari-jarinya ditempa besi tua, menyimpan bara mantra.

Panggil anak ini Jokotole

Anak perkasa

Berdarah Madura.

 

Tang teng tang teng

Besi tua ditempa bara

Pamor keris tercipta

Berpendar pada dua matanya kerling beling kaca

Empu Kelleng tancapkan mantra-mantra

Di dalam sukuraga bara berkobar penuh rahasia

Jokotole menggenggam bara tanpa dirasa

 

Kesatria penunggang kuda

Dengan pecutnya menggaris langit madura

Bangunkan para pertapa

Ia jumpa dengan pamanya Adi rasa

Pulau Sapudi Sepuh Dewa ia ceritakan segala prahara yang membadai dalam asmara

 

Atas nama tanah Madura

Aku simpan segala bara pada ketenangan samudra

Atas nama ibunda Potre Koneng dan Adi Poday ayahanda

Aku kobarkan api cinta pada setiap tungku yang menyimpan luka

Atas nama Pangeran Wagung Rakyat, kakek yang menggenggam kuasa

Kubalas segala derita kutinggikan sumpah cinta di tanah Madura.

 

Sugat, 28 desember 2025-2026


Sugat Ibnu Gazali

 

SUGAT IBNU GAZALI | Pembina Kompolan Kesenian Lenteng (Kalenteng) dan Komunitas Sauh Langit. Pembatik Sumenep, owner Kombung Batik, Lenteng.

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan