dimadura
Beranda Tomang Sumenep BPBD Sumenep Catat 23 Bangunan Rusak Akibat Bencana Hidrometeorologi Sepanjang Januari 2026

BPBD Sumenep Catat 23 Bangunan Rusak Akibat Bencana Hidrometeorologi Sepanjang Januari 2026

Foto: Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, Achmad Laily Maulidi, (Doc. Dimadura).

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP, DIMADURA–Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, mencatat sebanyak 23 bangunan mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi basah yang terjadi sepanjang Januari 2026.

‎Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, Achmad Laily Maulidi, mengatakan bahwa kerusakan tersebut terjadi selama musim penghujan yang disertai angin kencang di sejumlah wilayah, baik daratan maupun kepulauan.

‎“Pada periode Januari ini terdapat 23 bangunan yang terdampak. Dari jumlah tersebut, empat di antaranya merupakan lembaga pendidikan, mulai dari madrasah ibtidaiyah (MI), pondok pesantren, hingga SMP,” kata Laily, Selasa (27/1/26).

‎Ia menjelaskan, dari total 23 bangunan yang rusak, tiga unit di antaranya mengalami kerusakan berat hingga roboh total.

‎Ketiga bangunan tersebut merupakan rumah milik warga yang berada di wilayah daratan.

‎“Yang rusak total atau roboh itu ada tiga rumah. Lokasinya masing-masing di Kecamatan Saronggi, Kecamatan Ambunten, dan Kecamatan Guluk-Guluk,” terang dia.

‎Sementara itu, 16 bangunan lainnya mengalami kerusakan ringan hingga rusak berat.

‎Kerusakan tersebut tersebar di berbagai wilayah, baik di daratan maupun kepulauan.

‎“Untuk yang rusak ringan sampai rusak berat itu tersebar. Ada di wilayah kepulauan, ada juga di daratan,” ujarnya.

‎Laily menambahkan, laporan terbaru juga diterima dari Kecamatan Arjasa, wilayah kepulauan, terkait adanya rumah warga yang mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi.

‎Terkait penanganan, BPBD Sumenep bergerak berdasarkan laporan resmi yang masuk dari pemerintah desa melalui camat kepada bupati, serta laporan masyarakat melalui layanan darurat 112.

‎“Setiap ada laporan masuk, kami langsung menindaklanjuti. Untuk wilayah daratan, tim BPBD turun langsung ke lokasi untuk melakukan asesmen tingkat kerusakan,” jelas Laily.

‎Adapun untuk wilayah kepulauan, ia menyampaikan BPBD melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan setempat serta relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) guna melakukan pendataan dan asesmen awal.

‎Laily menegaskan, tidak semua laporan awal yang masuk merupakan rumah roboh.

‎Setelah dilakukan asesmen di lapangan, BPBD memastikan bahwa hanya tiga rumah yang benar-benar mengalami kerusakan total.

‎“Setelah asesmen, yang roboh total itu hanya tiga. Selebihnya rusak ringan sampai rusak sedang,” kata Laily.

‎Terkait bantuan, ia mengaku telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar bagi warga terdampak di wilayah daratan.

‎Bantuan tersebut meliputi terpal, sembako, makanan siap saji, hingga matras bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan berat.

‎“Fokus kami adalah pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Bantuan keuangan masih dalam proses,” tambah dia.

‎Sementara itu, penyaluran bantuan ke wilayah kepulauan untuk sementara ditunda.

‎Hal ini dilakukan atas pertimbangan keselamatan, menyusul rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca ekstrem dan penundaan aktivitas pelayaran.

‎“Untuk wilayah kepulauan, bantuan belum kami salurkan karena kondisi cuaca yang belum memungkinkan. Kami khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.

‎Lailyberharap kondisi cuaca ke depan semakin membaik sehingga tidak terjadi lagi rumah roboh akibat angin kencang dan hujan lebat.

‎“Mudah-mudahan cuaca semakin mereda dan tidak ada kejadian serupa ke depan,” pungkasnya.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

2

Konten Iklan