dimadura
Beranda Gardu Budaya Sejarah: Asal-usul Halal Bihalal di Indonesia

Sejarah: Asal-usul Halal Bihalal di Indonesia

Potret pertemuan antara Presiden Soekarno dengan KH Abd Wahab Hasbullah di Istana Merdeka saat membahas serta diresmikannya nama budaya Islami yang menjadi asal-usul Halal Bihalal di Indonesia (Foto: Ist./Tadjul Arifien R./doc.dimadura)

Oleh: Tadjul Arifien R


Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1Halal Bihalal pada hari Lebaran, sudah menjadi tradisi yang dilakukan para kaum Muslimin di Indonesia, dan merupakan tradisi atau budaya yang tak pernah ditinggalkan oleh masyarakat sejak era kemerdekaan.

Tradisi saling bermaaf-maafan di kala Hari Raya Idul Fitri, tetap tersimpan dalam kisah sejarah sekalipun jarang diketahui oleh khalayak ramai. Istilah Halal Bihalal tersebut hingga sekarang memang begitu lekat dengan budaya lebaran di Indonesia.

Setelah sekitar 3 tahun Indonesia menjalani kemerdekaan dibawah Presiden Soekarno, waktu itu tidak semulus begitu saja, banyak sekali permasalahan yang dihadapinya, seperti adanya Agresi I dan II, adanya kawan-kawan seperjuangan Bung Karno yang balelo karena bersimpangannya ideologi, kekurang-kompakannya para pembantunya, gejolaknya partai-partai termasuk akan menuju terbentuknya negara federasi.

Kemudian Presiden Soekarno mengambil inisiatif yang merupakan langkah yang bijak, yaitu dengan mengundang seorang ulama kharismatik, KH Wahab Chasbullah pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, yang juga salah-satu pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama bersama KH Hasyim Asy’ari dan kawan kawan. Beliau juga salah-satu santri Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.

Setelah diadakan pertemuan secara khusus di Istana Merdeka, maka Presiden Soekarno menyampaikan tentang situasi negara waktu itu, dan minta masukan untuk menjernihkan situasi negara yang sedang tertimpa kemelut tersebut.

Maka KH Wahab mengusulkan untuk melakukan acara silaturrahmi nasional, tapi sempat ditolak oleh Presiden Soekarno karena hal tersebut sudah lazim dilakukan oleh masyarakat. KH Wahab pun mengusulkan agar nama momentum tsb diberi nama “Halal bihalal”, dengan tujuan menghalalkan dan saling memaafkannya, ternyata Presiden Soekarno tersenyum dan menyetujuinya.

Kiai Wahab menjelaskan, bahwa konflik antar elit politik berakar dari saling menyalahkan, yang dalam perspektif agama adalah dosa (haram). Maka, untuk menghapusnya, diperlukan proses “menghalalkan” yakni saling memaafkan dalam satu forum.

Dari situ, lahirlah istilah “Halal Bihalal”, sebuah konsep yang bukan sekadar pertemuan, tetapi proses penyucian hubungan antar manusia.

Gagasan tersebut langsung dilakukan oleh Presiden Soekarno pada Hari Raya Idul Fitri dengan mengundang para tokoh politik ke Istana Negara, para petinggi negara, tokoh partai, ulama dan lain sebagainya, dalam sebuah acara bertajuk “Halal Bihalal”.

Disana, mereka akhirnya duduk bersama, saling memaafkan, dan membuka lembaran baru demi persatuan bangsa.

Momentum tersebut menjadi titik balik tradisi “Halal Bihalal”, kemudian Presiden Soekarno menyarankan agar dilakukan juga oleh instansi pemerintah seluruh Indonesia, dan lambat laun menyebar ke masyarakat luas. Terutama di kalangan kaum Muslimin di Pulau Jawa, tradisi ini berkembang menjadi budaya tahunan dengan tujuan pokok:

“Mempererat silaturahmi, menghapus kesalahan serta memperkuat persaudaraan.”


Sumber:

  • Media Cetak Kedaerahan, era th 1948-1950.
  • Koran-koran yang aktif pada era pasca kemerdekaan.

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan