Puisi Puisi Sugat Ibnu Gazali
SASTRA, DIMADURA – Sugat Ibnu Gazali lahir di Sumenep, Madura. Sehari-hari aktif berkesenian dan mengkultuskan dirinya menjadi “Pegulat Puisi”.
Hingga kini, ia terus berkarya sekaligus membina dua komunitas yang ia dirikan, yakni Kompolan Kesenian Lenteng (Kalenteng) dan Komunitas Sauh Langit.
Selain itu, ia juga aktif membina berbagai sanggar dan kelompok teater di daerahnya, seperti Teater Parokon, Sanggar Lasemi, dan Mayang Siwalan.
Di luar aktivitas kesenian pertunjukan, membatik menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Ia mengembangkan galeri Kombung Batik di kediamannya dengan motif khas bernuansa abstrak.
Karya-karyanya telah dimuat dalam berbagai antologi puisi, di antaranya Dzikir Ilalang, Lubang Kata, Sajak Awal Desember, serta Majalah Jokotole Balai Bahasa Jawa Timur.
Sugat Ibnu Gazali merupakan penggagas antologi puisi Celoteh di Bawah Bendera bersama Rumah Seni Asnur, Sofyan RH Zaid.
Puisi Puisi Sugat Ibnu Gazali
TAPA DHANGDHANG
Letakkan segala keresahanmu pada tajin sanapora. Tajin berwarna kuning, biru, putih, hitam, dan merah.
Sebelum doa diusung ke tapah dhangdhang, jalan menyilang tempat pertemuan segala pandang.
Kuning tajinnya adalah kuning matahari timur.
Biru tajinnya biru lautan.
Hitam tajinnya hitam mendung selatan.
Merah tajinnya merah matahari barat.
Putih tajinnya putih pinta dari segala doa.
Kugaris segala ketakutan pada simpang empat.
Kewaswasan mari kita lipat.
Pada daun pisang tempat sesajen menampung segala kutuk dan cacat.
Akhirnya segala praduga mari jadikan tumbal.
pasung segala pengharapan dengan ritus doa, tanpa membunuh Tuhan di akhir rencana.
2026
ARYA KUDA PANOLE
Tanah garam pulau Madura
sepuh baja lahirnya raja-raja
seorang lelaki kesatria dengan mata setajam gendewa
lahir penuh rahasia menyibak hutan belantara
Di pinggangnya terselip pecut pusaka—mengerang namanya
Mengental madu darah Madura
hempaskan musuh di tengah samudra
Kuda panole menghentak bumi,
Pecah lautan
hantam perahu Dempo Awang
Langit mendung
mega remeng menyelinap menusuk awan hitam
setengah terang, setengah perang.
Ia tak banyak bicara
Karena suara hanya sebatas nyala pada gulita
Pecut menjilat lautan, menebas langit tanpa bebintang
Yang khianat segera tumbang
Musuh lenyap tanpa kilatan pedang
Ringkik kuda panole melaju secepat kilat
Mengukir jejak
Menjadi prasasti di dada Madura.
Sugat, 2018,2026
BALADA CINTA AYU RASMANA DAN BINDARA SAUD
Air sungai bergelayut dari arah pintu matahari
Menggaris lereng-lereng bebukitan
Hantarkan anak laki-laki pada lembung tempat air berporos melingkar lan-bulanan
Kepalanya menunduk tawaduk didekap air wuduk
Matanya teduh diguyur dingin subuh
Anak laki-laki itu berlari mengembala ingatan, membaca huruf-huruf suci pada riak sungai hakiki
meloncat-acebbung-menyelami kedalaman cinta pada yang maha Agung
Bindara Saud
Santri kiai Faqih alim fiqih
Penyabit rumput dan pengembala sapi
Harum namanya menyemerbak sampai istana
Raden Ayu Rasmana tak kuasa sembunyikan debar hatinya
Di balik tirai sutra dan tembok-tembok keraton
Runtuhlah hati seorang putri
Batinnya tak henti menyebut namanya
Seorang Saud berpakaian lusuh menjadi ekolalia
dalam benak hatinya
Pintu istana terbuka lebar
bergetar sampaikan berita yang baru mengakar bahwa cinta tidak pernah memandang harta dan tahta
Cinta memiliki bayang-bayang panjang
Raden Ayu tak kuasa menolak titah batin suci
Dua hati satu jiwa
nyatakan sumpah cinta: Pitungkas mujarrab doa-doa pada semesta
Mulai hari ini panggil ia Adipati Raden Tirtonegoro Muhammad Saud.
Kuncup bunga-bunga melati, cempaka, dan bunga kenanga bermekaran menyemerbak penuhi taman istana
di sela harum doa-doa
Patih Purwo Negoro menajamkan ambisinya.
Ia ingin merebut Raden Ayu Rasmana,
menjarah bukan hanya cinta
melainkan harga diri
berebut cinta dan tahta.
Tombak dan pedang bersahutan memecah keheningan
Patih Purwo Negoro ciptakan badai di tengah cahaya bulan bemadu
Bindara Saod berdiri
Perintahkan dua kesatria setia:
Patih Saunggaling dan Patih Sangga Taruno, habisi Purwo Negoro!
Di bawah rembulan yang pucat:
logam bertemu logam,
doa bertemu dendam,
Berkilat pecahkan hening malam
sabetan pedang membelah sejarah,
memahat canggah pendopo Asta Tinggi
tanah mencium amis darah
Garis pedang nasib tak dapat ditawar
Purwo Negoro rebah ke pangkuan bumi
Istana kembali lahirkan sejarah
Antara cinta dan amis darah
Rakyat biasa pemegang tahta
Membuka gerbang kuasa
Dengan cinta menjadi genta pada setiap kemurnian jiwa
Sugat, 8 januari 2020-2026
LOMAMPA JOKOTOLE DHALEM TAREKA
Dikisahkan
Bermula di Payudan
Asmara tumbuh bergeliat dalam mimpi
Perempuan cantik putri seorang raja di tanah Madura bergerilya dalam cerita
Di hutan belantara seorang anak laki-laki dilahirkan karena takut menjadi petaka
dengan tarikan nafas doa ibunya
peluhnya ngarai menyimpan segala harapan
Matanya berkaca-kaca pantulkan
cahaya ketakutan dari telunjuk Ayahanda
Ia bukan tak dicinta
Diasingkan karena bentuk cinta menepis segala praduga dalam prahara asmara
Hutan belantara
Merawatnya tanpa siksa
Karena ia tahu setiap anak lahir dari rahim surga penuh cinta
Seekor kerbau putih bersama lonceng kayu akasia melihat matanya semerah biji saga
menyala di antara semak-semak balsa dan cemara
Menyusuinya lenyapkan segala derita dan dahaga
Panggil anak ini jokotole
Anak rimba yang akan menjadi jawara di tanah Madura.
Teriakan Empu Kelleng memecah rimbun hutan belantara
Di dadanya aku temukan ketenangan samudra. Jari-jarinya ditempa besi tua, menyimpan bara mantra.
Panggil anak ini Jokotole
Anak perkasa
Berdarah Madura.
Tang teng tang teng
Besi tua ditempa bara
Pamor keris tercipta
Berpendar pada dua matanya kerling beling kaca
Empu Kelleng tancapkan mantra-mantra
Di dalam sukuraga bara berkobar penuh rahasia
Jokotole menggenggam bara tanpa dirasa
Kesatria penunggang kuda
Dengan pecutnya menggaris langit madura
Bangunkan para pertapa
Ia jumpa dengan pamanya Adi rasa
Pulau Sapudi Sepuh Dewa ia ceritakan segala prahara yang membadai dalam asmara
Atas nama tanah Madura
Aku simpan segala bara pada ketenangan samudra
Atas nama ibunda Potre Koneng dan Adi Poday ayahanda
Aku kobarkan api cinta pada setiap tungku yang menyimpan luka
Atas nama Pangeran Wagung Rakyat, kakek yang menggenggam kuasa
Kubalas segala derita kutinggikan sumpah cinta di tanah Madura.
Sugat, 28 desember 2025-2026

SUGAT IBNU GAZALI | Pembina Kompolan Kesenian Lenteng (Kalenteng) dan Komunitas Sauh Langit. Pembatik Sumenep, owner Kombung Batik, Lenteng.
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





