dimadura
Beranda Congkop Pancasila dan Warna Indonesia

Pancasila dan Warna Indonesia

Foto: Anggota DPRD Kabupaten Sumenep dari Fraksi PKB, Akhmadi Yasid, (Ari/Doc. Dimadura).

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1WAWANCARA, DIMADURA – Pancasila lahir untuk menjadi rumah besar bagi bangsa yang sejak awal sadar dirinya beragam. Indonesia berdiri karena kesediaan hidup bersama di tengah perbedaan suku, agama, bahasa, budaya, dan kepentingan politik.

‎Anggota DPRD Kabupaten Sumenep dari Fraksi PKB, Akhmadi Yasid, dalam wawancara dengan media ini, mengingatkan bahwa Hari Lahir Pancasila perlu dimaknai sebagai momentum merawat persatuan dan keadilan sosial.

‎“Hari Pancasila adalah momentum untuk mengingat kembali bahwa Indonesia dibangun di atas nilai persatuan, gotong royong, keadilan, dan kemanusiaan,” jelasnya, Minggu (31/5).

‎Di tengah iklim demokrasi yang kian riuh, Pancasila mesti kembali menemukan relevansinya. Polarisasi politik, pertarungan identitas, hingga derasnya arus informasi digital acap membuat ruang publik kehilangan kejernihan.

‎Perbedaan pendapat, kata dia, masih saja sering menyebabkan permusuhan, sementara kepentingan kelompok kerap menyingkirkan kepentingan bersama.

‎Sebab itu, menurut Yasid, demokrasi memerlukan kedewasaan dalam mendengar dan menghargai perbedaan.

‎“Demokrasi yang sehat bukan soal suara terbanyak, tetapi kemampuan mendengar dan menghargai pendapat yang berbeda,” katanya.

‎Nilai persatuan dalam Pancasila tidak menuntut masyarakat menjadi seragam. Indonesia justru hidup karena memiliki banyak warna.

‎Perbedaan merupakan kenyataan yang perlu dirawat agar tidak berubah menjadi jurang sosial. Demokrasi yang sehat lahir dari kesediaan menjaga ruang dialog dan kepentingan bersama.

‎Namun demikian, kata dia, persatuan tanpa keadilan hanya akan melahirkan ketimpangan yang dipelihara.

‎Sila kelima menurutnya perlu menjadi pengingat bahwa pembangunan harus dirasakan seluruh rakyat.

‎“Negara harus hadir untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam proses pembangunan,” tuturnya.

‎Generasi muda juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Dunia digital membuka ruang pengetahuan tanpa batas, sekaligus menghadirkan banjir informasi yang mudah memecah kesadaran kebangsaan.

‎Karena itu, Yasid menilai Pancasila perlu dipahami sebagai pedoman hidup dalam menghadapi era globalisasi dan digitalisasi.

‎“Nilai-nilai Pancasila menjadi benteng agar generasi muda tetap memiliki identitas kebangsaan yang kuat, mampu berpikir kritis, menghargai keberagaman, dan menggunakan teknologi untuk hal-hal yang produktif,” ucapnya.

‎Sebelum menutup keterangan, kader muda PKB itu menyampaikan, bahwa Indonesia akan tetap berdiri selama masyarakatnya menjaga kerukunan, gotong royong, dan rasa saling memiliki.

‎”Pada akhirnya, Pancasila menjadi denyut yang menjaga warna Indonesia tetap hidup,” pungkasnya.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

2

Konten Iklan