Kurban Ego Antar Generasi
KOLOM, DIMADURA –Di banyak keluarga hari ini, anak mungkin masih patuh kepada orang tua, tetapi tidak selalu merasa didengar. Relasi tetap tampak harmonis di permukaan, namun perlahan kehilangan percakapan yang hangat dan setara.
Dalam konteks itulah kisah Ibrahim dan Ismail menemukan relevansinya kembali. Jika dicermati lebih mendalam, kisah ini bukan sekadar tentang kepatuhan seorang hamba kepada Tuhan. Di dalamnya terdapat pelajaran penting mengenai bagaimana hubungan antara orang tua dan anak dibangun melalui dialog, kepercayaan, dan penghormatan terhadap kesadaran satu sama lain.
Di tengah meningkatnya krisis komunikasi dalam keluarga modern, pembacaan semacam ini menjadi semakin penting. Al-Qur’an merekam percakapan Ibrahim dengan Ismail dalam bentuk yang sangat menarik. Ibrahim tidak datang dengan nada perintah mutlak. Ia tidak menyampaikan keputusan secara sepihak. Sebaliknya, ia membuka ruang percakapan:
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Kalimat ini penting. Bahkan dalam situasi yang sangat berat sekalipun, Ibrahim tetap memosisikan Ismail sebagai subjek yang berhak mengetahui dan memberi tanggapan. Ada penghormatan terhadap suara anak. Ibrahim tidak mempraktikkan otoritas secara membungkam, melainkan menghadirkan komunikasi yang melibatkan kesadaran anak.
Di titik inilah kisah kurban menawarkan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar simbol kepatuhan. Relasi antara Ibrahim dan Ismail menunjukkan bahwa kepatuhan tidak lahir dari tekanan, melainkan dari kepercayaan yang dibangun melalui proses panjang keteladanan dan kedekatan emosional.
Namun, dialog Ibrahim dengan Ismail tidak menghilangkan dimensi utama kisah ini sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan. Justru di situlah letak kekuatan spiritualnya. Nilai agama tidak dipaksakan melalui ketakutan dan dominasi, tetapi dihidupkan melalui komunikasi dan keteladanan moral. Ibrahim tidak sekadar mengajarkan perintah, tetapi terlebih dahulu menghadirkan integritas sebagai seorang ayah.
Karena itu, jawaban Ismail tidak lahir dari kepasrahan yang kosong:
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Respons itu muncul dari keyakinan, bukan ketakutan. Tidak mungkin seorang anak sampai pada tingkat penerimaan seperti itu apabila relasi yang terbangun sebelumnya dipenuhi dominasi dan keterpaksaan. Di sini, Ibrahim tampak bukan hanya sebagai ayah yang ditaati, tetapi juga sebagai figur yang dipercaya.
Hal ini penting karena banyak hubungan orang tua dan anak hari ini justru bergerak ke arah sebaliknya. Banyak keluarga masih menempatkan kepatuhan sebagai tujuan utama, tetapi mengabaikan dialog sebagai proses utama pembentukan hubungan. Anak dituntut memahami orang tua, sementara orang tua tidak selalu bersedia memahami anak.
Dalam banyak rumah tangga, komunikasi perlahan berubah menjadi instruksi sepihak. Orang tua merasa memiliki legitimasi penuh atas masa depan anak dengan alasan pengalaman, pengorbanan, atau posisi sebagai kepala keluarga. Akibatnya, anak lebih sering diposisikan sebagai penerima keputusan daripada bagian dari percakapan.
Situasi ini semakin kompleks di tengah perubahan sosial yang cepat. Tekanan ekonomi membuat banyak orang tua lebih fokus pada stabilitas dan keamanan masa depan anak. Kompetisi pendidikan mendorong keluarga menjadikan prestasi akademik sebagai ukuran utama keberhasilan. Di sisi lain, budaya digital memperlebar jarak psikologis antargenerasi.
Anak hidup dalam dunia yang berubah sangat cepat, sementara banyak orang tua masih menggunakan pola komunikasi lama yang menekankan kontrol dan kepatuhan mutlak. Tidak sedikit anak akhirnya tumbuh dalam tekanan ekspektasi. Mereka diarahkan memilih jurusan tertentu, pekerjaan tertentu, bahkan cara hidup tertentu demi memenuhi standar keluarga atau tuntutan sosial. Dalam situasi seperti itu, anak sering kehilangan ruang untuk mengenali dirinya sendiri.
Yang muncul kemudian adalah relasi yang tampak harmonis di permukaan, tetapi rapuh secara emosional. Anak mungkin tetap menuruti keinginan orang tua, tetapi melakukannya dalam keterpaksaan. Mereka belajar menjadi patuh, tetapi tidak selalu merasa didengar. Mereka dekat secara fisik dengan keluarga, tetapi jauh secara psikologis.
Fenomena ini dapat dilihat dari semakin banyaknya anak muda yang mengalami kelelahan mental, kehilangan arah hidup, atau kesulitan membangun komunikasi terbuka dengan keluarga. Survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 bahkan menunjukkan bahwa sekitar 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, yang salah satunya berkaitan dengan tekanan relasi dan komunikasi dalam keluarga.
Dalam konteks inilah kisah Ibrahim dan Ismail menjadi penting untuk dibaca ulang. Ibrahim tidak menggunakan otoritas sebagai alat untuk membungkam. Ia juga tidak memaksakan kehendak personal kepada anaknya atas nama posisi sebagai ayah. Yang dibangun Ibrahim adalah kesediaan bersama melalui dialog dan keteladanan spiritual.
Kisah ini sekaligus menunjukkan bahwa otoritas orang tua dalam Islam tidak identik dengan sikap otoriter. Kepemimpinan dalam keluarga bukan soal siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan kepercayaan, keteladanan, dan kedewasaan emosional.
Di sinilah relevansi Iduladha bagi keluarga modern. Pengorbanan tidak selalu berarti kehilangan sesuatu secara fisik. Dalam banyak situasi, yang justru lebih sulit dikurbankan adalah ego antargenerasi: ego orang tua yang merasa selalu paling benar dan ego anak yang menolak memahami pengalaman orang tuanya.
Padahal, keluarga yang sehat tidak dibangun melalui kemenangan salah satu pihak. Ia tumbuh dari kesediaan untuk saling mendengar. Sebab, hubungan yang bertahan lama bukanlah hubungan yang dipenuhi ketakutan, melainkan hubungan yang dipenuhi kepercayaan.
Karena itu, Iduladha semestinya tidak berhenti pada ritual penyembelihan hewan kurban. Di dalamnya terdapat refleksi mendalam tentang pentingnya membangun kembali percakapan dalam keluarga percakapan yang memungkinkan orang tua dan anak saling memahami sebagai sesama manusia yang sama-sama sedang belajar menjalani kehidupan.
Barangkali hari ini yang paling mendesak untuk dikurbankan bukan hanya hewan, melainkan cara lama dalam membangun relasi keluarga: pola komunikasi yang terlalu penuh perintah, terlalu miskin mendengar, dan terlalu sibuk menentukan masa depan anak tanpa melibatkan suara mereka. Sebab, keluarga yang kuat tidak lahir dari kepatuhan yang dipaksakan, melainkan dari kepercayaan yang dibangun bersama.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





