dimadura
Beranda Congkop Rusydiyono dan Rumah Besar Jurnalisme Lokal

Rusydiyono dan Rumah Besar Jurnalisme Lokal

Rusydiyono, Ketua DPC PWRI Sumenep, Saat Memyampaikan Sambutan Penutupan Pelatihan Jurnalistik di UNIBA Madura, Sabtu 15 Maret 2025 (Foto: Doc. Dimadura)

“Silakan teman-teman PWRI sentuh segala lini, pergilah mengembara berkembala sejauh kalian mau dan bisa, tapi ingat, kalau sudah waktunya pulang, segera pulang dengan hati yang lapang!”


Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1Begitu Rusydiyono, Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Persatuan Wartawan Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Sumenep, mengingatkan anggotanya. Bagi Yono—begitu ia biasa disapa—PWRI bukan sekadar organisasi, melainkan rumah besar bagi para jurnalis yang ingin berkembang.

Ia membebaskan mereka untuk mencari pengalaman seluas-luasnya, tetapi ketika organisasi membutuhkan, ia ingin mereka kembali, berkontribusi, dan membangun bersama.

Kepemimpinan Yono tidak berangkat dari sekadar formalitas jabatan. Ia menghidupi perannya dengan keterlibatan penuh, baik dalam membangun kapasitas jurnalis lokal maupun dalam merawat solidaritas di antara mereka.

Sejak menahkodai DPC PWRI Sumenep, ia giat menginisiasi pelatihan, mendorong para wartawan mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW), hingga membuka jalur kolaborasi dengan berbagai pihak.

Kepekaannya terhadap dinamika jurnalisme lokal tumbuh dari perjalanan panjangnya di dunia pers. Sebagai jurnalis Nolesa.com, ia memahami betul tantangan yang dihadapi media daerah—minimnya akses pelatihan, keterbatasan jaringan, hingga tekanan ekonomi yang kerap membayangi keberlanjutan profesi wartawan.

Karena itulah, ia memilih untuk bergerak dari dalam, menguatkan organisasi agar bisa menjadi tumpuan bagi anggotanya.

Tapi Yono bukan tipe pemimpin yang berjarak. Di berbagai kesempatan, ia selalu menyempatkan diri duduk bersama rekan-rekannya, berdiskusi dalam suasana santai, berbagi cerita dan pengalaman.

Bagi banyak jurnalis muda di Sumenep, ia lebih dari sekadar ketua—ia mentor, teman diskusi, sekaligus sosok yang selalu bisa diajak bicara tanpa sekat.

“Jurnalisme bukan hanya tentang menulis berita—lebih dari itu, seorang jurnalis harus mampu menerjemahkan kepentingan masyarakat,” pesannya suatu waktu.

Selain menghidupkan PWRI sebagai ruang belajar, Yono juga memiliki perhatian besar pada peran jurnalis dalam membangun masyarakat. Ia kerap menekankan bahwa media harus hadir bukan hanya untuk memberitakan, tetapi juga untuk memberikan solusi, mengangkat isu-isu lokal yang sering kali luput dari perhatian media nasional.

Sebagai alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, nilai-nilai kebersamaan dan intelektualitas yang ia serap sejak muda tercermin dalam cara ia memimpin. Ia percaya, bahwa jurnalisme yang baik bukan hanya soal kecepatan berita, tetapi juga soal kedalaman dan kebermanfaatan.

“Kecepatan memang penting, tetapi kedalamanlah yang membuat berita yang kita tulis bisa bertahan dalam ingatan. Dan di sanalah kebermanfaatan menemukan ruangnya—bukan sekadar mengabarkan, tetapi menyalakan pemahaman,” pesannya lebih lanjut.

Di tangan Rusydiyono, PWRI Sumenep bukan sekadar organisasi profesi, melainkan ruang pulang bagi mereka yang ingin menjadikan jurnalisme sebagai jalan pengabdian. Dan seperti ucapannya, sejauh apa pun langkah diayun, selalu ada tempat untuk kembali—dengan hati yang lapang. ***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan